Tampilkan postingan dengan label Kisah Binatang-Binatang Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Binatang-Binatang Inspiratif. Tampilkan semua postingan

15 Mei 2022

Bertukar Pahala?

Tiap seseorang marah, ia selalu mengumpat keluarga Asuna. Padahal keluarga Asuna sama sekali tidak terlibat dalam masalah mereka.


   "Ibu, mengapa kita selalu disalahkan manusia? Padahal kan mereka yang membuat masalah," keluh Nana suatu hari


   "Itu ujian untuk keluarga kita. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, ada masanya kita akan diuji. Kenapa harus diuji? Karena supaya Tuhan yakin untuk mengangkat dan atau menurunkan derajat kita. Kalo kita dekat dengan Tuhan, derajat kita akan diangkat. Jadi, ayo berlomba-lomba dalam kebaikan untuk merebut 'hati' Tuhan."


Hari-hari selanjutnya, mereka terus dicaci. Telinga Nana sudah sangat panas karena ucapan manusia-manusia itu.


   "Ibu, aku kesal pada mereka. Mereka selalu saja berkata kasar, keras dan mengumpat keluarga kita seakan-akan mereka adalah makhluk tersuci yang pernah Tuhan ciptakan. Rasanya tuh pengen gigit mereka sampai darahnya habis."


   "Hust! Nggak boleh menyimpan dendam. Menjatuhkan makhluk lain tidak akan membuat kedudukan kita lebih tinggi. Nana tau nggak? Ini justru bagus."


   "Kok bagus, Bu?"


   "Ini waktu yang bagus untuk bertukar pahala. Saat makhluk ciptaan Tuhan didzalimi atau disakiti, pahala dari makhluk yang mendzalimi akan menjadi milik kita. Itu bukankah bagus untuk menabung pahala. Pahala-pahala itu bisa mengantarkan kita ke surga loh."

08 Mei 2022

Buah Kesabaran

Pada suatu pagi, Catya, si kucing kecil sedang mencari makan. Keadaannya sangat memprihatinkan. Kurus, kering dan kini, mengais makanan di tempat sampah.

Brukk

   "Minggir kau! Membuat berantakan aja kerjaannya!"

Catya kesakitan, tapi wanita itu sama sekali tak menghiraukannya.

   "Meong, meong, meong (Aku hanya lapar)."

Tak ingin merasa sakit untuk kedua kalinya, Catya mengalah dan mencari makan ke tempat lain.

Ia terus berjalan dengan rasa sakit yang masih terasa. Tiba di sebuah perumahan, ia mencium sesuatu. Terasa lezat. Catya menghampiri aroma tersebut dan benar saja, ada ikan matang tergeletak di tanah. Catya berniat mengembalikannya tapi-

Byurr

Kulitnya terasa melepuh karena disiram air mendidih. Ia meloncat menghindari siraman berikutnya akan tetapi ia tak sengaja menyenggol piring berisi ikan. Bertambah marahlah pemilik ikan tersebut. Catya diseret dan kembali dibenturkan ke dinding. Ia terus meminta maaf, tapi tak digubris.

Tubuh Catya dipungut dan kembali dibenturkan ke dinding. Darah mengucur dari kepalanya. Perlahan, pandangannya menggelap dan akhirnya benar-benar padam.

Beberapa menit kemudian, ia mengerjap-ngerjapkan mata. Rasa sakitnya tiba-tiba lenyap dan di depannya, sesosok makhluk bersayap sedang membaca sebuah buku. Apakah dia-

   "Catya, kami menghargai kebaikan yang kau lakukan. Sekarang, ikutilah aku pergi ke lajur kanan. Tuhan telah menyiapkan sebuah hadiah untukmu."

Catya tak henti-hentinya berterima kasih karena ia diberi hadiah surga oleh Tuhan.