Tampilkan postingan dengan label Dibalik Angka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dibalik Angka. Tampilkan semua postingan

02 Juli 2022

5

  Hari ini, aku sekeluarga pergi ke kebun binatang. Di sana kami bisa melihat banyak sekali hewan. Ada gajah, harimau bahkan badak.


   "Bunda, yang lehernya panjang itu namanya siapa?" tanya Ara


   "Semua hewan yang mempunyai leher panjang itu disebut jerapah," jawab Bunda


   "Wah, banyak sekali jerapahnya. Apakah itu juga jerapah bunda?" tanyanya sambil menunjuk ke salah satu jerapah


   "Itu juga jerapah tapi sepertinya jerapah itu terlalu banyak makan. Jadinya perutnya gendut."


   "Itulah sebabnya Ara kalau makan jangan terlalu sedikit juga jangan terlalu banyak. Jika terlalu sedikit nanti sakit perut dan jika terlalu banyak perut Ara menjadi gemuk," jelas bunda


   "Dan angka lima itu seperti jerapah yang perutnya gemuk. Atas kepalanya, lalu leher dan perutnya yang gendut," lanjutku


Ayah, ibu dan Ara pun tertawa.


26 Juni 2022

4

    "Kakak,"


   "Hem, ada apa, Ra?"


   "Ceritakan tentang angka empat dong," pintanya


   "Kakak lagi malas cerita."


   "Ayolah Kak. Hanya nomor empat saja."


   "Ya sudah, jadi seperti ini ceritanya. Dulu, ada kursi kecil bernama Wilk. Saat Wilk tiduran, kakinya selalu ke atas, menompangkan pada benda apapun. Ibunya Wilk menasihati supaya Wilk tidak melakukan hal itu. Wilk menurut tapi itu hanya sebentar. Karena tak berselang lama setelah ibunya pergi, ia melakukan hal itu lagi.


Hal itu terjadi beberapa kali sampai membuat ibunya marah. Ibunya tidak sengaja mengucapkan,


   'Bagaimana jika kaki itu tidak bisa diturunkan dan kau menggunakan kepala untuk berjalan?!'


Tak disangka, kaki Wilk benar-benar tidak bisa diturunkan. Ia berteriak meminta tolong tapi tidak ada satupun yang mendengar. Kursi kecil Wilk merasa bersalah tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Sampai sekarang kursi terbalik adalah simbol angka empat. 


19 Juni 2022

3

    "Kakak-kakak, sebentar lagi aku sih mau sekolah," ucapnya bangga


   "Sekolah dimana?"


   "Kata bunda di TK"


   "Ya sudah, sini kakak ajari kamu menulis. Nanti kalau sudah masuk sekolah Ara jadi sudah terbiasa."


   "Ara 'kan sudah pintar menulis angka satu dan dua."


   "Baru angka satu dan dua. Yang lain 'kan belum. Toh, kamu belum tahu ABC. Jadi, tidak boleh sombong," ucapku menasihati


   "Sombong itu apa Kak?"


   "Kakak punya cerita tentang angka tiga dan sombong. Kamu dengar ya."


   "Siap" ia meletakkan tangannya di dahi (posisi hormat)


   "Dulu, ada anak bernama Taiga. Taiga itu suka ... sekali makan. Sampai-sampai perutnya gendut tapi dia selalu mendapat juara satu di sekolah. Sejak saat itu Taiga menjadi sombong. Ia menganggap teman-teman yang lain tidak sepandai dirinya. Oleh karena itu dia tidak pernah lagi belajar seperti dulu. 


Taiga jadi semakin banyak bermain. Setiap minggu saat ayahnya pulang, ia meminta mainan baru yang mahal. Lalu ia memperlihatkannya pada teman-temannya. Teman-temannya tidak boleh meminjam. Menyentuh mainannya saja tidak boleh. Sejak saat itu, ia dijauhi teman-temannya. Ia tidak mempunyai teman lagi sekarang.


Tiba-tiba kepalanya membesar, sebesar perutnya. Taiga jadi susah berjalan. Karena panik, ibu Taiga membawa anaknya ke rumah sakit. Dokter mengatakan,


   'Anak ibu telah berbuat sesuatu yang tidak baik. Ia sombong. Jika Taiga tidak meminta maaf, kepalanya akan semakin besar dan akan meletus kapan saja.'

Tamat


   "Jadi, kamu tidak boleh sombong. Sombong itu tidak baik. Sombong sama saja dengan besar kepala."


   "Iya, kakak. Ara minta maaf."


12 Juni 2022

2

    "Ara! Jangan mainan air terus, nanti kamu masuk angin," teriak bunda dari ruang tengah


   "Nanti Bunda. Sebentar lagi," jawabnya tak kalah kencang


Aku menghampiri Ara yang kala itu masih bermain banyu. 


   "Hayoloh main air terus ntar jadi bebek kriput," ledekku 


   "Bebek kriput?"


   "Iya, coba deh lihat tangan kamu yang tadi buat main air, pasti kriput." Ara menuruti perintahku. Melihat tangannya yang mulai kriput, ia hampir saja menangis


   "Eh, kenapa nangis?"


   "A-aku, aku tidak mau jadi bebek kriput." Tangisnya makin keras


   "Ya sudah, sini kakak bantu mengeringkan tanganmu supaya tidak kriput lagi."


   "M-memang kalau dikeringkan aku tidak akan jadi bebek kriput?" tanyanya di sela-sela tangis


   "Kalau kamu tidak bermain air terlalu lama dan nurut apa kata bunda, ayah dan kakak kamu tidak akan jadi bebek kriput."


05 Juni 2022

1

Aku mempunyai seorang adik. Namanya Ara. Ia baru berumur 4 tahun. Suatu ketika ...

"Ara, ayo makan. Nanti kalau tidak makan kamu bisa sakit."

"Ara nggak mau makan, Bunda. Ara masih ingin bermain."

Aku berusaha mengalihkan perhatiannya. Muncullah ide yang brilian.

"Ara, Ara. Kamu tahu tidak angka satu itu bagaimana?" tanyaku pada Ara

"Tidak. Memang angka satu itu bagaimana, Ka?"

"Angka satu itu kurus banget seperti lidi. Kau tahu mengapa?" tanyaku lagi

"Kenapa Ka?"

"Jadi seperti ini ceritanya. Di sebuah desa, ada anak bernama Atu. Anak itu suka ... sekali bermain. Sampai ia lupa waktu. Pada suatu pagi, ia bermain balok kayu. Ayahnya telah berangkat ke sawah tadi dan kini, ibunya akan pergi ke pasar untuk membeli sayuran.

"Atu, kamu mau ikut ke pasar?" tanya ibu Aty

"Tidak, Bu. Aku ingin bermain balok kayu saja."

"Di rumah tidak ada makanan, apa kau tidak akan kelaparan? Ikut ibu saja nanti akan ibu belikan kue cubit."

"Tidak, Ibu. Aku hanya ingin bermain balok."

"Baiklah. Mungkin ibu akan sedikit terlambat karena mau beli banyak kebutuhan. Kamu jaga rumah ya," seru ibu Atu sebelum pergi

Atu hanya mengangguk. Ibunya pun ke pasar seperti biasa.

Sampai siang hari, ibu Atu belum juga kembali. Begitu pun ayahnya. Perutnya sudah mulai keroncongan minta diisi. Di rumah hanya beberapa krupuk yang ia temui. Atu pun memakan krupuk itu berharap ia bisa kenyang. Namun ia masih saja merasa lapar.

Atu menyusul ke sawah tempat ayahnya bekerja. Ia tidak menemukan siapa pun disana. Ia mengelilingi pasar, bertanya pada orang-orang yang yang ia kenal. Akan tetapi, tak satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan orang tua Atu.

Setitik banyu bening meluruh dari matanya. Ia berteriak memanggil ayah dan ibunya. Namun, orang-orang disana enggan untuk sekedar bertanya mengapa.

Atu memutuskan untuk kembali ke rumah. Semakin ia menangis, tubuhnya semakin kurus. Hingga tepat di depan rumah, ia berubah menjadi sebuah lidi. Tamat."

"Jadi, Ara mau jadi seperti Atu?"

"Tidak mau!" ucapnya setengah berteriak

"Jadi, Ara harus melakukan apa sekarang?" tanyaku memancing

"Makan yang banyak."

"Yang sedang-sedang saja. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik."

"Oke kakak comel."