Aku selalu diwanti-wanti untuk tidak bermain di dekat kandang sapi yang berada di ujung kompleks. Kata keluargaku, di sana angker karena dulu Tasim, juragan pedhet (anak sapi) pernah kepergok mencekoki seorang anak dengan didih (darah hewan yang digoreng). Aku antara percaya jika warga sekitar menganggap keluarga pak Tasim melakukan pesugihan agar pedhet-nya laku keras mengingat keluarga pak Tasim cukup sering ke mushola. Akan tetapi aku juga tidak "buta" saat melihat warga sekitar menjaga jarak dengan kewaspadaan penuh saat salah satu keluarga pak Tasim memberi sesuatu atau bahkan sekedar lewat pekarangan rumah warga.
07 Juli 2022
30 Juni 2022
Taman Bermain
Hari itu sekolah terlihat seperti biasanya. Anak-anak terlihat ceria bermain. Namun, ada yang menggangguku, saat anak-anak sudah masuk kelas mengapa ayunan itu terus bergerak?
Aku adalah penjaga sekolah baru yang menggantikan penjaga sekolah sebelumnya yaitu paman yang pensiun dan pulang kampung.
Ini hari keduaku. Karena tidak memiliki sanak saudara, aku tinggal di sekolah ini. Ayunan itu masih terus berayun pelan. Aku mencoba berpostur thinking. Mungkin saja ada angin.
Malam hari tiba. Aku mendengar ada suara anak kecil sedang bermain. Suaranya seperti berasal dari arah taman bermain namun tak ada satupun anak kecil yang ada di sana.
Tunggu! Di terowongan itu ada suara. Kudekati dan menganga kala melihat makhluk kecil jelek dengan gigi taring menyeringai padaku. Sontak aku pingsan di tempat.
Saat terbangun langsung kulihat jam. Pukul empat pagi. Merinding bulu kudukku. Segera pergi meninggalkan tempat bertemunya aku dan anak kecil itu.
"Assalamualaikum Jang," salam suara di seberang sana
Aku memutuskan menelepon pamanku dan menceritakan apa yang terjadi padaku kemarin, tapi paman justru tertawa. Dia mengatakan aku harus rajin shalat dan dzikir karena itu belum seberapa. Karena masih akan banyak "penghuni" yang memiliki rasa ingin tahu saat ada warga baru di tempat itu. Yang lebih sialnya pulsaku habis dan sambungan terputus sebelum aku berkomentar.
23 Juni 2022
Dibalik Pintu
Seseorang memberi salam dari luar rumah. Itu adalah salah satu guru di sekolah anakku, Putri. Dia yang menanyakan apakah Putri sudah pulang atau belum membuatku sedikit bingung. Bukankah Putri harusnya jam segini masih di sekolah?
"Setelah jam istirahat tadi, Putri nggak balik ke kelas bu, tapi tasnya masih ada. Saya pikir Putri udah pulang jadi saya ke sini buat mastiin."
"Tapi Putri belum pulang pak," jawabku makin cemas
Tanpa berpikir panjang, kuambil tas dan bergegas ke sekolah Putri, diikuti guru tadi. Sesampainya kami di sekolah, guru-guru dan kepala sekolah menungguku tak kalah cemas dan dominan rasa bersalah.
"Maaf bu Santi. Sejak istirahat tadi Putri tidak ditemukan. Putri hilang bu." Mereka mencoba menjelaskan padaku
"Hilang? Gimana ceritanya Putri bisa hilang sementara ini masih di lingkungan sekolah!"
"Sekali lagi maaf bu. Kata anak-anak tadi pas jam istirahat Putri dan anak-anak lain bermain petak umpet, tapi entah kenapa saat bel berbunyi Putri tak kunjung muncul."
"Hmmm."
Aku berpikir sembari mengedarkan pandangan. Entah kenapa kakiku bergerak sendiri. Seperti ada sesuatu yang menariknya. Langkahku terhenti hingga ke depan pintu. Kubuka pintu itu dan Putri ada di sana. Di balik pintu itu. Aku dapat mendengar helaan napas lega dari guru maupun kepala sekolah. Kuputuskan untuk pulang setelah berpamitan pada semua orang yang ada di sana sambil minta maaf karena tadi sedikit emosi.
Saat di rumah, aku menceritakan kejadian ini ke ayahnya Putri. Menurut kesaksian Putri dan setau beliau, tadi Putri sempat dibawa Wewe, sesosok makhluk dengan payudara besar dan panjang hingga hampir menyentuh tanah. Beruntung Putri tidak memakan makanan yang Wewe itu berikan. Kalo makanan tersebut dimakan, Putri tidak akan bisa kembali.
16 Juni 2022
Bercak
Beberapa tahun yang lalu tepatnya saat MOS hari ketiga diselenggarakan, aku bermimpi buruk. Dalam mimpi itu seekor anjing mengejarku tanpa alasan. Sebenernya aku ga takut anjing kalo model anjingnya kek anjing-anjing biasa, tapi anjing di mimpiku itu bener-bener serem. Badannya hitam legam tanpa warna lain. Ukurannya juga segede body xmax.
Aku berusaha lari, tapi anjing itu terus ngejar. Sialnya lagi aku malah tersandung disaat darurat kek gini. Dia mendekat, jilatin pelipis kepalaku sebelah kanan, turun ke bawah sampe bajuku juga kena air liurnya juga. Dalam hati aku udah ngeluh, pasti ntar cape karena harus nyuci baju pake tanah. Aku baru ngeh akhir-akhir ini bahwa sebenernya dalam mimpi itu aku sadar. Sadar dalam artian aku sadar apa yang harus aku lakuin kalo terkena air liur anjing.
Tiba-tiba anjing itu gigit jari manisku yang sebelah kanan. Aku jerit waktu itu. Sakitnya bener-bener terasa walau dalam mimpi. Dia terus gigit sampe jari manisku putus. Dia juga makan jari tengah dan jempol kananku.
Ga berselang lama setelah ketiga jariku dimakan habis sama anjing hitam itu, ibu bangunin aku. Dia nanya kenapa aku teriak sambil nangis. Aku langsung liat tangan kananku. Jari-jariku masih utuh. Ga ada yang luka atau patah kek di mimpiku.
"Ga papa, Bu. Cuman mimpi."
"Mimpinya buruk banget ya? Nggak biasanya loh kamu teriak sambil nangis leher gitu."
Aku langsung ke kamar mandi buat sikat gigi karna sebentar lagi udah mau imsak. Bakal malu banget kalo ketahuan batal puasa dengan alasan "tadi nggak sempet sahur". Setelahnya nyiapin segala keperluan supaya ga dihukum sama para kambing.
Aku berangkat lebih pagi hari itu. Naik sepeda bareng mba Asih dan Rahma dengan aku yang berada di barisan paling belakang. Waktu itu belum boleh naik motor sendiri dan kebetulan diajak berangkat bareng.
Di pertengahan jalan, aku liat temenku, Pixel (jangan tanya dia punya sodara namanya Vektor juga atau ga karena aku juga ga tau). Aku liat Pixel sama ayahnya masih dengan pakaian biasa (bukan seragam sekolah). Sebenernya bukan itu yang buat aku heran, tapi sesuatu di punggung ayahnya Pixel. Ada kek anak kecil duduk di punggung ayahnya Pixel dan ssmar-samar kek ada kain putih yang ngebungkus tubuh Pixel. Sepedaku melambat karena berusaha mastiin kalo apa yang aku liat itu bener. Entah dari mana datengnya truk dam (truk yang biasa ngangkut pasir dan batu) tapi truk itu nabrak aku. Aku ga sadar setelah itu.
Pas aku sadar udah ada di RS. Aku diperiksa. Kata dokter aku baik-baik aja dan udah langsung boleh pulang. Ibu beresin administrasi. Aku ga langsung pulang setelah itu. Aku dibawa ke RS lain. Diperiksa sama dokter lagi dan jawabannya masih sama kalo aku baik-baik aja dan udah langsung boleh pulang. Ibu bilang sepedaku mental jauh dan ancur. Dokter yang udah langsung ngebolehin aku pulang buat ibu curiga kalo dokternya belum berpengalaman.Aku jadi mikir mungkin tadi aku refleks loncat dari sepeda sebelum akhirnya sepeda itu mental jauh? I dinon. Aku sering ngelupain sesuatu yang penting dan sebaliknya.
Aku sampe di rumah. Buyut (ibu dari nenek) yang waktu itu masih hidup latin aku dari atas sampe bawah. Dan buat pertama kalinya aku merinding cuman karena digarap sama buyut. Buyut ngiler rambutku dan ga tau kenapa dia ga ngizinin aku buat keluar rumah setidaknya 3 hari ke depan dengan alasan apapun. Ibu nanya kenapa pelipis kananku ada lingkaran coklatnya. Aku bahkan ga sadar ada lingkaran coklat kalo ibu ga nanya gitu.
Sejak saat itu aku mimpi buruk. Aku sempet nguping pembicaraan buyut, nenek dan ibu. Katanya aku kena tulalas. Tulalas itu makhluk mitologi di darahku (entah dipercaya orang dari daerah lain atau ga aku ga tau). Katanya tulalas itu "makhluk" berwujud anjing yang membuat seseorang yang kena air liurnya bakal ngalamin siksa yang berkepanjangan baik itu lewat mimpi, sosial maupun mistik siksa itu paling cepat 3 hari dan paling lama 1 minggu dan sebelum siksa itu berakhir, orang yang kena air liur tulalas ga boleh kumpul sama orang banyak karena katanya bisa bahaya karena konon semakin pekat warna wilayahnya, semakin besar juga dampaknya.
Aku bener-bener ga boleh keluar selama 3 hari itu. Cuman di rumah, rebahan dan makan makanan yang ga ada warnanya. Di hari keempat bercak coklat itu bener-bener ga ada bekasnya sama sekali
02 Juni 2022
Ciluk Ba
Namaku Viona. Aku tinggal di sebuah desa di kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kala itu aku sedang bersama temanku, Keyra. Ya ... karena memang kami kurang kerjaan, jadi memutuskan bersepeda di malam hari. Berkeliling memutari desa dengan Keyra yang mengemudikan sepedanya. Kami bergantian dalam membonceng saat Keyra sudah mulai capai. Akan tetapi, aku berbeda dengannya. Fisikku lebih lemah ketimbang Keyra menjadikanku lebih sering membonceng.
Aku dan Keyra yang sama-sama sudah lelah memutuskan untuk istirahat. Kami duduk di teras rumah Evan. Tak lama kemudian, kebiasaan narsis milik Keyra muncul. Berdiri di kaca depan rumah Evan sambil menampilkan berbagai macam pose. Aku hanya geleng-geleng kepala tapi tertarik untuk mencobanya juga.
Kami berdua kompak berpose peace. Tidak! Bukan hanya kami berdua karena yang kami lihat di pantulan kaca ada dua makhluk pucat menampilkan pose yang sama.
"Ciluk Ba."
Aku berusaha berlari sekencang mungkin begitupun dengan Keyra setelah melihat mata kedua makhluk tersebut berwarna hitam legam tanpa selaput putih sedikitpun.
19 Mei 2022
Badut
Seperti biasa, hari ini aku diantar mama ke taman kanak-kanak. Setelah bel berbunyi, anak-anak berkumpul dan berbaris. Masing-masing menghitung hingga giliranku, "Empat." Berlanjut pada empat anak di belakangku.
"Anak-anak, hari ini aku kedatangan Kak Setya dan badutnya. Kalian yang tertib ya nontonnya," ucap bu guru
Tunggu! Apa kata bu guru tadi? Badut. Oh tidak. Aku takut badut. Entahlah tapi aku merasa badut begitu menakutkan.
Saat badut-badut itu menuju aula, aku memilih kabur karena takut. Aku berlari menuju tangga. Sesuatu berwarna hijau menatapku lekat. Seluruh tubuhnya benar-benar berwarna hijau tanpa warna lain. Apakah itu badut yang kebetulan lewat? Aku makin takut dan berlari menuju ruang guru. Bersembunyi di balik meja guru, berharap badut berwarna hijau itu segera pergi.
Tak berselang lama, banyak langkah kaki terdengar. Itu wali kelasku dan beberapa guru lain. Aku berhamburan ke pelukannya.
"Ada apa?"
"Tolong bu. Ada badut yang tubuhnya berwarna hijau di dekat tangga."
"Tidak ada badut berwarna hijau yang kak Setya bawa hari ini."
12 Mei 2022
Jok Belakang
Erik dan Elan baru saja kembali dari tongkrongan mereka menuju kos-kosan mereka.
"Lan, ini mata gue yang emang nggak waras kalo malem atau itu beneran kuntilanak?" tanya Erik sambil menepuk punggung Elan, heboh
"Mana?"
Sebuah motor yang dikendarai oleh seorang laki-laki berjaket hitam-merah berpapasan dengan mereka. Elan yang melihatnya sontak berbalik arah untuk memperingati.
"Mas-mas, berenti."
Laki-laki itu menghentikan motornya, "Ada apa?"
"Maaf, tadi mas boncengin siapa?" tanya Erik to the point
"Bonceng? Dari Bobotsari sampe sini nggak ngeboncengin siapa-siapa."
"Maaf nih ya, kami nggak bermaksud buat nakut-nakutin atau gimana, tapi tadi kami liat ada kuntilanak yang bonceng di belakang masnya."
Pantesan kaya rada bau melati, ternyata jok belakang ada yang numpang, batin pria itu
05 Mei 2022
Sungai
Tiga puluh menit sebelum adzan dzuhur, Tanto pergi ke pelataran sungai untuk memancing, tapi, sampai pegal kakinya berjongkok tak ada satu pun ikan yang berhasil ia tangkap. Ketika akan beranjak, bisa ia lihat di seberang sana seorang laki-laki mendapat ikan yang lumayan besar. Mencari peruntungan, Tanto menyeberang.
Tanto tak kunjung berada di seberang karena tiba-tiba saja ia merasa kakinya ditarik. Saat menoleh ke belakang, ada pusaran air cukup besar entah darimana dan kapan terbentuknya. Pusaran itulah yang menarik Tanto ke dalam. Ia megap-megap ketika tubuhnya terendam air menyisakan tangannya untuk berpegang pada apapun yang bisa menyelamatkannya. Kakinya yang terasa ditarik itu sebisa mungkin ia tendang-tendangkan. Terus dan terus ia lakukan diiringi doa dalam hati.
Sepuluh menit setelah adzan dzuhur, barulah ia terbebas dan bisa berjalan menuju daratan. Anehnya, kedua kakinya lecet, seperti membentur bebatuan padahal rasanya ia tidak membentur batu sekecil apapun tadi. Ia tak menemukan bebatuan, hanya lumpur yang ada dimana-mana. Kemudian, ia pulang dan menceritakan kejadian ini pada keluarganya.
28 April 2022
Cicak
Hari ini aku datang ke rumah nenek di desa. Satu setengah jam perjalanan, membuatku harus menahan panas dan kencing. Aku juga heran mengapa saat di rumah tidak kebelet sementara saat bertamu tujuan utamanya adalah kamar mandi.
Setelah bersalaman dengan kakek dan nenek, lanjut ke toilet. Rumah-rumah di sini masih terbilang tradisional. Bahkan kamar mandinya masih terbuat dari anyaman bambu. Aku jadi khawatir kalau tiba-tiba ada ular yang mematuk atau setidaknya tokek, karena di depanku sudah ada cicak yang sedang menatapku.
Saat hendak melepas pakaian, aku membaca ta'awudz dan basmalah. Entah sebuah kebetulan atau bagaimana, tapi cicak itu kabur segera setelah ta'awudz dibacakan. Aku jadi makin merinding kala mengingat ceramah dari ustad tak jauh dari tempat tinggalku bahwa jin terkadang bisa merubah bentuk menjadi ular, kalajengking dan cicak. Apakah yang baru saja kulihat itu jin jahat yang kepanasan saat aku bacakan ta'awudz?
21 April 2022
Anak Kecil
"Nyari apa?" tanya Aulia kala melihat adiknya, Aldi, celingak-celinguk. Aldi yang begitu terkejut membuat pikiran dikuasai sederet prasangka negatif.
"Tadi aku kaya liat anak kecil lari cepet banget."
"Anak kecil?" Aulia ikut-ikutan melihat sekitar. "Nggak ada anak kecil tuh. Jangan-"
Ucapan Aulia terpotong oleh perpaduan tangis dan teriakan histeris dari Refa. Keluarga Aulia yang mendengar suara melengkung itu lantas menuju sumber suara.
"Uangku lima juta ilang," cerita Refa
Ningsih (ibu Aulia) mencoba menenangkan. Aulia yang curiga pada adiknya memberi tatapan membunuh, sementara yang digarap mengendikkan bahu, tak tahu.
Hari-hari berikutnya, makin banyak yang kecurian. Aldi yang selalu bersama Aulia terbebas dari cap tersangka setelah Aulia melihat sendiri anak kecil yang dilihat Aldi tempo hari adalah seorang tuyul.
14 April 2022
Kamistis Edisi Ndari
Sebuah perseroan terbatas (PT) mengalami kejadian unik dimana 90% pekerjanya mengalami kerasukan masal. Orang-orang yang berpotensi menyembuhkan dipanggil untuk membantu, tapi beberapa dari mereka juga mengalami hal yang sama.
"Assalamualaikum," salam seorang pria dengan tubuh berisi
Mereka yang tadinya berteriak tidak jelas, semuanya diam. Disentillah satu per satu dari mereka, dan ajaib. Mereka sembuh.
Satu diantara 90% pekerja itu adalah Ndari. Ndari berhasil sembuh, tapi saat di rumah ia kembali kerasukan. "Penunggu rumah" senang apabila pintu jiwa seseorang terbuka karena mereka bisa menguasai tubuh orang tersebut dan melakukan apapun.
Diisi oleh empat makhluk sekaligus membuatnya dicap sebagai orang gila. Pasalnya ia kadang bersifat layaknya anak kecil, keras, keibuan, tak jarang ia berteriak tanpa sebab. Hal itu menjadi momok bagi orang-orang.
Ia telah dibawa ke tetua kampung, ustad dan orang pintar oleh pihak keluarga, tapi hasilnya nihil. Sejak kejadian itu, ia berhenti kerja dan sering main ke rumah saudaranya agar ada teman ngobrol. Konon katanya "mereka" lebih suka orang yang bengong.
"Maaf Mba, mamanya Keke ada?" tanya seorang gadis mungil dengan kaos vespa
"Ada di belakang, masuk aja," jawabnya
Gadis itu menurut dan bertanya siapa wanita tersebut pada Ana (mama Keke) mengingat ada dua makhluk yang mengikuti wanita itu. Diceritakanlah secara singkat dan membuat gadis penyuka kartun itu heran. Bukankah omnya telah membebaskan semua pekerja tempo hari? Tapi kenapa sekarang masih ada yang tersisa?
"Banyakin ibadah dan shalawatnya ya, Mba," saran gadis tersebut sambil menepuk pundak Ndari. "Aku pamit dulu."
Gadis vespa kembali dengan gelang hitam dan permen. Ia penasaran.
"Hai, hai. Aku balik lagi. Mba mau permen?" tanya gadis itu menawari dan segera diambil oleh Ndari. "Namaku Cantika. Nama Mba siapa?"
"Jangan berpura-pura. Aku dan keluargaku tidak suka kebohongan."
"Yah ketahuan ya? Padahal aku udah berusaha meniru kakak Cantik semaksimal mungkin," ucapnya dengan raut sedih, tapi sedetik kemudian kesedihan itu lenyap
"Oke-oke. Kali ini aku jujur. Namaku Rara. Kepingan dari orang yang kakak temui tadi. Kalau kakak?" tanya Rara kemudian
"Ndari, Siti Sundari."
"Dan makhluk yang bersama kakak?"
"Kamu bisa melihat mereka?" tanya Ndari yang hanya dibalas cengengesan
"Anak dan suamiku. Amel dan Toni. Kalo kamu berniat ngusir kami, itu percuma. Sebelum terlambat, lebih baik kamu nyerah." Tiba-tiba bulu roma Ana berdiri. Ia ... merinding?
"Ngusir kalian? Aku nggak berhak buat ngelakuin itu karena pada dasarnya rumah yang sekarang ditinggali sama kak Ndari itu milik keluarga kalian. Aku cuma mau memperkenalkan tempat baru yang lebih nyaman," jelas Rara
"Tubuhmu?"
"Tetot. Sebuah gang bernama arah. Kakak tau kan maksudku?"
"Kami nggak bisa. Nenek pasti ma-" suara anak kecil terdengar, tapi segera dipotong oleh ibunya. "Amel main di taman gih. Mama sama Papa mau ngomong sama kakak ini dulu."
Amel mengangguk dan berbalik. Ia patuh.
"Amel," panggil Rara membuat yang dipanggil menengok. "Mau permen?"
"Makasih kakak baik."
"Kembali kasih. Jangan jauh-jauh. Ntar diculik om geseng."
"Om geseng?" tanya Amel bingung
"Huum. Om-om jahat yang kalo kamu ketangkep, Amel nggak bakal bisa ketemu sama mama papa lagi. Amel juga akan jadi keras dan jahat."
"Kaya nenek?" tanya Amel lagi
"Ada kemungkinan gitu. Amel bantu doa ya. Kata guru ngajiku, doa anak sholeh atau sholehah cepat terkabul."
Rara, Sinta (Ndari) dan Toni sepakat menuju rumah. Mereka disambut desisan marah Dasirah (nenek Amel). Dasirah tiba-tiba bernyanyi, membuat Sinta dan Toni beralih dan menyerang Rara.
"Ish, nggak gentle banget jadi nenek," gerutu Rara
Mau tidak mau Rara memanggil teman-teman gaibnya yang terdiri dari manusia, hewan, maupun perpaduan keduanya.
Pertarungan berlangsung lama dan dimenangkan oleh Rara. Daerah yang penuh cakaran dari Rara dan Karin akhirnya menjadi kepulan asap, begitu juga Sinta, Amel dan Toni yang semakin lama semakin pudar di mata Rara.
07 April 2022
Misteri Ular unik
31 Maret 2022
Kelas
Mata sembab terukir di baby face milik Aira. Sudah beberapa hari belakangan ini Aira selalu menangis saat masuk ke kelas. Asmi yang mengantarkan Aira pun menjadi bingung harus berbuat apa.
Asmi menceritakan kejadian ini pada ibu dan nenek Aira. Setelah musyawarah singkat tersebut, diperolehlah kesepakatan bahwa Aira besok akan diantar oleh Ana, ibunya.
Keesokan harinya, Aira masih saja menangis saat masuk ke kelas. Ana jadi curiga apakah di kelas tersebut ada semacam setan atau jin hingga anaknya selalu menangis dan takut jika masuk ke sana?
"Jika itu benar, kita ke tempat Amri buat minta bantuan," usul nenek Aira
Amri merupakan tetua kampung yang biasanya mengurusi hal-hal gaib seperti kesurupan, diganggu makhluk dan sebagainya.
Di rumah Amri, Iyem, nenek Aira menceritakan apa yang terjadi. Akhirnya mereka diberi bahan-bahan yang konon katanya bisa mengusir "mereka".
"Ugh! Bau apa ini?" tanya Kenzie, kakak Aira, sambil menutup hidung
"Ini bahan-bahan buat ngusir setan yang gangguin adikmu." Kenzie melenggang tanpa berkomentar
"Mama, Aira tidur siang dulu, ngantuk," izin Aira kemudian mengikuti kakaknya menuju kamar
***
"Kakak?" panggil Aira
Kenzie menempelkan telunjuknya pada bibir, memberi isyarat pada adiknya untuk diam. Mengendap-endap layaknya maling menuju adiknya.
"Apapun yang kamu liat dan terjadi di sini, jangan bilang sama siapa pun. Ini rahasia kita ber-"
"Akhirnya kau datang juga," ucap seseorang tinggi besar dengan kedua kaki hilang dan wajahnya gosong
"Kakek? Ini seriusan kakek?" tanya Kenzie tak percaya. "Jangan bilang kakek yang selama ini nakut-nakutin Aira di sekolah."
"Hahaha, kakek nggak nakut-nakutin karena kakek itu ganteng, bukan serem. Lagian apa salahnya nemuin cucu sendiri?"
"Nggak salah, cuman waktunya kurang tepat. Aira masih terlalu kecil buat tau keadaan terakhir kakek." Kenzie mengubah arah pandang pada adiknya, "Ai, jangan takut. Dia itu kakek kita. Suaminya nenek Iyem. Kakinya hilang dan tubuhnya gosong karena pas mau balik ke kota asalnya dia kecelakaan. Kakinya terjepit dan mobilnya kebakar. Walaupun kek gitu dia baik kok. Jadi kamu nggak perlu takut. Kalo dia masih gangguin kamu pas lagi pelajaran, bilang aja ke kakak. Biar kakak jewer telinganya," ucap Kenzie sambil melirik ke arah kakeknya
Tiba-tiba Aira terbangun dari tidurnya dan langsung menuju Iyem di dapur, "Nek, kakek meninggal karena kecelakaan pas mau ke kota asalnya ya?"
"Kamu tau dari mana?" tanya Iyem
"Nguping. Apa lagi selain itu?" jawab Kenzie yang baru datang dan langsung menyeret adiknya menuju kamar
"Kakak kan udah bilang apapun yang kamu alami di sana tadi, jangan kasih tau siapapun. Itu rahasia kita berdua."
"Kenapa kakak ngelakuin ini? Kenapa nggak terang-terangan aja kalo kakak 'bisa' kan jadinya nggak dimarahin sama mama dan nenek."
"Lima tambah lima sepuluh. Lima kali dua sepuluh. Aku dan pak Amri cuman beda cara buat menghasilkan hasil yang sama."
24 Maret 2022
Misteri Rumah Pak Katim
Hai hai. Mocha come back dengan waktu yang lebih awal. Seperti biasa aku akan membawakan cerita supranatural, horor, misteri dan kawan-kawannya buat nemenin Kamis malam kalian. Karena nggak ada bahan dan aku juga males googling, jadi malam ini Mocha bakal ceritain kisah unlogic di sekitar rumah Mocha aja.
Seratus meter dari rumah Mocha menuju arah timur ada sebuah kebun. Kebun itu dulunya diisi oleh rumah Pak Katim sekeluarga. Satu tahun tinggal di sana semuanya baik-baik aja, tapi di tahun berikutnya Bu Tutur (istri Pak Katim) sering sakit-sakitan dan kejang tanpa sebab. Sobat Mocha tau apa yang aneh dari itu? Dokter mengatakan semuanya baik-baik saja. Bu Tutur ga ada penyakit apa-apa. Cuman harus teratur makan.
Beberapa hari setelah pemeriksaan dan menjalankan perintah dari dokter, Bu Tutur kembali kejang dan dilarikan ke rumah sakit yang lebih besar. Sekali lagi, dokter ngomong kalo nggak ada yang salah. Nggak ada penyakit apa-apa.
Mungkin karena kejanggalan itu, keluarga Pak Katim mengadakan pengajian di rumahnya, berharap penyakit gaib itu bisa diatasi. Akan tetapi siapa sangka "penghuni" di sana ngamuk dan mengambil alih kesadaran sebagian besar orang yang mengaji. Ustad dan tetua kampung dengan susah payah mencoba menghentikan pergerakan mereka. Kejadian itu berlangsung alot dan diakhiri dengan kesepakatan kebun itu tidak boleh ditinggali oleh siapapun. Hanya "mereka" yang boleh tinggal di sana. Sampai sekarang, kebun yang cukup luas itu dibiarkan begitu saja.
17 Maret 2022
(Bukan) Gila
Hampir semua orang di wilayah kami menganggap kakakku malas, aneh dan gila. Bahkan sebelumnya aku dan keluargaku pun berpendapat sama. Kak Raya lebih suka seharian di kamar atau pergi bersama kak Juan. Sesekali mendengar lagu atau bertelepon entah dengan siapa.
Hari ini, kak Raya dimarahi seperti biasa karena rumah berantakan. Hp yang biasa ia gunakan disita. Dalam waktu seminggu ia tidak boleh menggunakan benda pipih itu.
"Kakakmu kemana, Sa?" tanya Mama
Ya begitulah tabiatnya. Setelah "virus gilanya" kumat, ia pasti akan menghilang dengan dalih ke rumah kak Juan kemudian akan pulang jam setengah enam sore. Aku jadi curiga bahwa mereka pacaran dan ... i hate my mind.
Waktu menunjukkan pukul 17.49, tapi kak Raya belum juga pulang. Bertambah buruklah pikiranku. Aku meminta izin pada mama untuk boleh mencari kak Raya. Kuitari kompleks tapi tak ketemu. Apakah di rumah-
"Kak Juan?!" panggilku
"Eh, hai, Raisa. Kamu nyari Raya?"
Aku mengangguk kemudian mengekor pada Kak Juan menuju rumahnya, tapi ini sama sekali bukan jalan menuju rumahnya.
"Heh adek useless! Balik lo jangan pacaran mulu!" Aku berbalik. Di depan sana ada Kak Raya dan Kak Juan. Aku jadi berpikir siapa orang yang bersamaku tadi?
Makhluk yang sebelumnya kupikir adalah Kak Juan membekap dan membawaku dalam dekapannya. Tiba-tiba kami (aku dan makhluk itu) berada di rumah mewah lengkap dengan penjaga yang menyeramkan.
Dia menyeret dan menyuruhku untuk membersihkan rumah mewah itu bersama ratusan manusia lain. Tiada jam tanpa membersihkan rumah. Setiap harinya ia juga membawa orang baru yang ditugaskan sama sepertiku.
Aku sudah pasrah jika harus terjebak di sini selamanya. Terlebih saat kulihat Kak Raya dan Kak Juan juga datang digiring oleh berbagai jenis makhluk. Tunggu! Makhluk itu hustru melawan penjaga rumah besar ini dengan komando Kak Raya.
Perang itu terjadi. Untuk pertama kalinya kulihat Kak Raya berkelahi dan menggunakan senjata. Dia terlihat sangat keren.
"Denger semuanya! Kami nggak bisa ngulur waktu lama. Pegangan tangan dan ikuti instruksi curut di depan!" teriak Kak Raya berusaha menunjuk Kak Juan
Semuanya patuh, tapi kalau kami yang pergi dulu, bagaimana dengan Kak Raya dan Kak Juan?
"Kakak juga harus ikut kami," pintaku
"Gue nggak punya banyak wak-" Kak Raya memuntahkan darah dari mulutnya kemudian mendesis. "Sebagai pengantar arwah, gue tau konsekwensinya. Kalian belum saatnya bertemu Tuhan jadi sekarang, pergi! Jangan buat apa yang gue lakuin sebulan terakhir jadi sia-sia." Aku terdorong menuju ke arah Kak Juan. Dalam mode lambat, aku bisa mendengar permintaan maaf Kak Raya walau disertai isak. Untuk pertama dan terakhir dia menangis karena setelahnya, aku tak pernah lagi melihat Kak Raya.
10 Maret 2022
Sirah
Aku baru saja mengantar temanku, Tini, menuju rumahnya. Jangan salah sangka. Kami tidak memiliki hubungan spesial dan hanya sebatas teman biasa. Toh kami masih kelas 11 SMA yang dimana sebentar lagi akan menghadapi monster bernama ujian.
"Ton, kamu kalo lewat jalan ini hati-hati ya," nasehat Tini tiap kali kami melewati jalan bernama Sirah
Konon katanya dulu sempat terjadi kecelakaan tunggal yang mengakibatkan korban tewas seketika. Motor yang dikendarai korban ringsek dan anggota tubuhnya tercerai-berai membuat polisi sulit mengidentifikasi mayat tersebut.
Satu minggu setelah kejadian itu, polisi menggabungkan tubuh korban yang ditemukan. Akan tetapi, pihak kepolisian tidak pernah menemukan kepala si korban sampai sekarang. Oleh sebab itu, jalan tersebut diberi nama "Sirah" yang dalam bahasa warga setempat artinya "kepala" untuk mengenang kejadian naas tersebut.
"Hadeuh mana udah mau senja lagi," gerutuku setelah pulang dari ekstrakurikuler dan mengantar pulang Tini sampai tujuan
Bruk
Firasatku di sini benar-benar buruk. Gimana kalo-
"Owh cuman tempurung kelapa." Aku berhenti dan mengambil tempurung kelapa itu untuk diletakan pada tepi jalan. Akan jadi bahaya kalo ada orang yang ngebut dan tempurung kelapanya masih ada di tengah jalan
"Mas," panggil seseorang dan aku menoleh. "Liat kepala saya nggak?"
Aku gemetaran dan perlahan melihat tempurung kelapa yang kupegang tadi. Antara kaget dan takut, kutinggalkan motor kala melihat tempurung kelapa itu berubah menjadi tengkorak kepala dengan senyuman iblis di bibirnya. Aku bersumpah tidak akan lewat sana lagi apapun alasannya!
24 Februari 2022
Kamistis Edisi Oliv
Heyyo hari Kamis telah tiba, hari Kamis telah tiba. Hatiku gembira😂 Hari ini nggak ada teori, ya sahabat Chamocha karena hari ini jadwalnya Kamistis (Kamis Mistis). Yuk yang punya cerita horor-thriller-misteri-all about satan bisa dikirim ke email chamochachamocha@gmail.com untuk nantinya dipublikasikan di halaman ini tiap hari Kamis.
Untuk permulaan, aku bakal ceritain kisahnya Oliv. Happy reading
Namaku Olivia, berumur 17 tahun. Seorang anak indigo yang mempunyai kekasih dari dimensi lain. Namanya Abi, makhluk astral yang kutemukan ketika aku berada di rumah sakit dimana dulu nenekku dirawat.
Dia punya paras yang tampan dan berkarisma. Sebenarnya umur kematiannya baru menginjak 3 tahun dan dia baru berumur 18 tahun. Aku dan dia selalu melakukan hal di luar nalar manusia karena dia memang bukanlah manusia.
"Aku datang," ucapnya memberi salam
"Hemm, baru dateng." Muka datar masih kutunjukkan
"Tadi aku ada urusan"
"What?! Hantu juga bisa ada urusan??"
"Ya iyalah sayang, masa ya iya dong"
"Apaan sih kadal baka"
"Kalo aku kesini ngajak gelud mulu deh pacarku ini..."
"Biarin wlee," ucapku memeletkan lidah
Celingak-celinguk ia mencari orang di rumah. "Rumah sepi amat. Orang tua kamu mana?"
"Oh iya, aku lupa ngasih tau kamu, orang tuaku pergi ke luar kota, ada acara katanya ntah berapa minggu. Aku ditinggal sendirian deh."
"Kasian mamang gelis ditinggal di rumah sendirian," ucapnya setengah mengejek
"Ya ... aku kan harus sekolah. Toh kamu juga udah ada di sini. So, aku nggak sendiri lagi."
"Aku minta maaf ya tadi nggak bisa nemenin kamu di sekolah jadinya nggak bisa jagain kamu deh. Eh, tadi kamu dibully lagi nggak?"
"Nggak kok"
"Jangan boong, dosa tau. Intinya kalo kamu sampe dibilang 'anak stres' lagi sama mereka, aku bakal buat mereka masuk neraka!"
"Eleh, kayak kamu masuk surga aja!?"
"Kamu mah sama pacar sendiri gitu, doain kek masuk surga."
"Tadi bilangannya bakal ngirim temen-temen rese ku ke neraka. Sementara kamu sendiri masih tanda tanya."
"Semoga aja Tuhan maafin kesalahan yang kuperbuat supaya aku bisa segera tenang."
"Kalo kamu udah tenang, aku nggak bisa ketemu kamu lagi dong."
"Bisa, lewat mimpi tapi nggak sesering sekarang. Kan aku punya urusan sendiri di alamku."
"Ajakin aku ke alammu napa biar aku ngerti kehidupan di sana. Aku 'kan juga pengen liat pemandangan di sana tuh bagus atau nggak."
"Ada syaratnya"
"Apa?" antusias
"Mati dulu, sama aku yok," ajaknya setengah bergurau
"Aih, masa mati ngajak-ngajak"
"Lah katanya mau liat keadaan di sana. Ya syaratnya harus mati dulu."
"Tau ah"
Aku memang sering bercanda dengan kekasih hantuku dan kami tidak ingin berpisah. Hubungan kami memang tak lazim tapi kita punya prinsip satu sama lain.
19:30
"Ciee...sendirian." Dia yang datang tiba-tiba membuatku cukup tersentak
"Kebiasaan banget deh tiba-tiba muncul. Perasaan temen-temenku yang lain nggak kaya gitu."
"Aku ke sini karna kamu kangen aku 'kan? Aku ngerasa tauk." Pede tingkat dewanya kambuh
"Kadang-kadang omonganmu suka bener hehe. Duduk gih"
Abi duduk di sampingku. "Ini beneran nggak ada orang sama sekali di rumah?"
"Iya mamang, 'kan pada keluar kota."
"Aku pengen sesuatu tapi boleh nggak?"
"Apaan? Jangan aneh-aneh deh."
"Dengerin dulu saiang ...."
"Ya cepet pengen apaan?!!"
"Pengen itu ... anu ..."
"Apaan sih ana anu ana anu. Kumasukin botol trus kubuang ke laut baru tau rasa."
"Apaan sih, aku serius pengen cium kamu"
"Cium tinggal cium kayak sama orang asing aja."
"Ya 'kan aku malu, nggak pernah nyium kamu sebelumnya"
"Taik. Bentar aku mau tanya," menghentikan Abi yang ingin menciumku
"Paan babi!!! (Mencium dengan cepat) motong adegan mulu dah"
"Nggak usah nge elpiji napa"
"Emang mau tanya apa sih sayang ...."
"Kalo aku pacaran sama manusia gimana?" tanyaku
"Emang kamu bukan manusia?"
"Maksudnya tuh kalo aku pacaran sama sesamaku gitu. Yang satu dunia, nggak kayak gini." Masih kupantau raut wajahnya
"Kamu mau ninggalin aku?? Ohh silahkan." Seketika dia cemberut
"Serius nih?"
"Kamu kayak gitu aja nanya. Iya, emang aku udah nggak ada di dunia ini lagi tapi kamu hargai dong perasaanku Oliv ... aku juga cemburu kalo kamu bilang gitu."
"Uluh-uluh kadal kyud nya Vivi ngambek," ucapku mengejek
"Bodo amat!" ucapnya dengan bibir yang sengaja dimonyongkan
Ah, dia makin imut saat sedang ngambek.

