Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

16 Juli 2022

Kemana?

 Kemana tawa itu?

Tawa yang tercipta dari mabar

Tanpa ponsel maupun jaringan


Kemana perginya tata krama?

Hingga asu dan bangsat jadi bahasa sehari-harinya

Tak beda yatim piatu dan didikan orang tua


Kemana hilangnya empati?

Apa juga tergerus globalisasi?

Atau manusia yang mulai kehilangan nurani?


Sampai detik ini,

Pertanyaanku masih satu

Kemana ajaran moral dari masa lalu?


25 Juni 2022

Pecahan

 Pecahan

Menjadi melodi indah kala diam

Bukankah itu menarik?

Menggenggam api yang berkobar berisik?


Lalu, mengapa keheningan tercipta?

Bukankah kalian tak menyukainya?

Ah, aku tak lagi bisa menonton sekarang 

Karena darah t'lah membanjiri lantai


18 Juni 2022

Tak Sejalan

Kau tak hilang

Aku tak pergi

Hanya tertimbun ego masing-masing

Bukankah begitu, Sayang?


Ketika bintang dan wulan tak saling sapa

Menanya kabar enggan rasanya

Kemudian, sekelebat ingatan terpampang

Bukankah dulu begitu intim?


Kemana hilangnya?

Siapa pembuat sekat diantara kita?

Apakah waktu yang terus berputar,

Atau tujuan yang tak lagi sejalan?



11 Juni 2022

Soal by Ayaka Ochiro

Latihan telah dilakukan

Dan hari ini,

Tepat di sini

Monster bernama soal akan datang


Kalah menang, menangis senyum

Itu soal belakangan

Selama doa dan usaha bersinergi,

Tak ada yang bisa hentikanmu lagi



04 Juni 2022

Aksara Jiwa by Ayaka Ochiro

Semilir menjelma takarir 

Entah kapan puisi ini lahir

Dari sesosok manusia pandir


Aksara bukan tuk bebucinan

Ia lebih dari yang tuan pikirkan

Penepis hujan kala senyuman muncul



Lalu, biarkan ia menutup luka

Terbuai sepoi anila

Sampai sempurna senyumnya

28 Mei 2022

Rintihan Pisang Bertanduk by KM Triyono

Rintik hujan bermain di atap sana

Bermaksud menghibur hati yang lara

Nyanyian gerimis semakin keras

Menunggu sapaan dari penikmatnya 

Terbaring menatap langit-langit rumah, kosong

Tak ada harapan


Rintik bergandengan detik, pergi tanpa telat dan pamit

Aku di sini, menanti satu detik setelah kamu mengubah detik-detik lainnya

Bahagia ataukah sebatas asa yang hilang?


Menunggumu adalah kerumitan yang kusadari 

Dan benar, hal ini tak pernah kurencanakan 

Berlabuh jiwa ini kepada tepian jalanmu


Wonosobo, 27 Mei 2022

14 Mei 2022

Taubat by Ayaka Ochiro

Terjatuh pada kubangan lumpur

Sehitam malam berkemul

Tak termaafkan

Yang dilakukan


Meneteskan lira

Ketika tak bisa menjalankan tugasnya

Ia tahu ini gila

Tapi nyawa taruhannya


Dia berdoa

Pada Yang Kuasa

Tuk terlepas nestapa

Yang selama ini diterimanya

07 Mei 2022

Rumahku Dihuni Tikus by Ayaka Ochiro

Rumahku dihuni tikus

Menjadikannya seperti tak terurus

Gandum dan beras

Buku dan emas, ludas


Mengambil yang bukan miliknya

Tapi mereka santai saja

Berjalan kesana kemari

Bermodalkan barang yang ia curi


Satu tikus tertangkap

Yang lain mulai beraksi

Digoda mimpi-mimpi

Dikejar sampai mati

30 April 2022

Depression

Take my hand ...

Please ...

Help me ...


Kemana semua orang?

Kenapa aku sendirian?

Kenapa aku dikelilingi kegelapan?

Dimana keadilan?

Dimana mereka yang mengaku teman?


Aku kedinginan

Aku kesepian

Aku ketakutan

Dan ...

Sudahlah

Tak ada yang mau mendengarkan 

Semua ini sia-sia


Semua ini salah

Apakah aku bersalah?


Aku lelah

Aku jengah

Aku pasrah

Aku berdarah



Mereka tetap pergi

Meninggalkan tanpa satu kata pun

Membuatku kembali menuai arah

Apa aku tak berhak bahagia?

Apa aku tak berhak menuai tawa?

Apa aku harus terasing seolah tak berharga?


Aku juga manusia

Aku punya rasa

Tapi ...

Semua sirna

Apakah hanya sunyi yang menemani?

Apakah hanya sepi yang diam dan tak mau pergi?

Dan setelah ini ...

Apakah ada yang menangisi setelah aku pergi?

23 April 2022

Lingkungan Sekolahku by Abdul Rahman

Di suatu pagi yang cerah

Di halaman sekolahku

Di lingkungan yang bersih

Tanpa sampah berserakan


Rumput hijau terhampar luas

Begitu bersih kala dipandang

Pohon-pohon yang rindang

Memberi kenyamanan saat belajar


Seluruh lingkungan sekolahku

Selalu bersih tanpa sampah

Tanpa kertas berceceran

Tanpa daun berguguran


Kebersihan selalu dijaga

Oleh siswa dan siswinya

Dari masuk sampai pulang sekolah

09 April 2022

Kehidupan by Agung Semburat

Derajat tinggi, harta berlimpah, semua orang berdatangan berjabat tangan memuji melempar senyum, seakan akan satu keluarga dalam lingkaran keharmonisan, kehidupan, seperti halnya bunga mekar yang di hinggapi oleh berbagai kumbang

Bunga mekar, warna yang indah menawan menghipnotis siapa saja yang melihatnya

Namun, kemekaran bunga tidak cukup tahan lama, ketika bunga layu, jangan kan manusia kumbangpun tak mau hinggap lagi dan pergi tanpa kata

Miskin, dekil, yang dulu kaya jatuh berubah menjadi orang tak punya, semua yang memuja menyanjung hilang begitu saja tanpa kata permisi di hadapan mata, bahkan saudarapun lupa ketika dulu bersama....ya itulah kehidupan

Terkadang hal manis datang hanya cuma untuk kebutuhanya saja, akan tetapi ketika pahitnya hidup menawarkan maka yang dulu manis akan pergi meninggalkan

Cukuplah kesabaran di tanam di hati jiwa dengan penuh keyakinan bahwa allah ada bersama kita maka tidak akan menuai kecewa.

Sumber: Belajar Berkarya

02 April 2022

Tersadar Oleh Waktu by Agung Semburat

Dulu aku berharap kamu selalu ada untuk ku

Tapi kini aku tersadar oleh bergulirnya waktu



Harapanku sirna telah hilang terhempas gelombang waktu
Karena aku tau pada saatnya nanti kamu sewaktu-waktu pasti menghilang
Tanpa jejak kata
Apalagi cendra mata
Saat aku butuh, kamu pun acuh

Aku yang lelah dihantam teriak bising
Seketika kamu pun asing
Seolah tak mau pusing
Meski rintihku terdengar nyaring

Aku pernah mengira kamu adalah rumah
Tempat di mana aku singgah
Namun ternyata aku salah
Dan kini aku ucapkan selamat tinggal untukmu selamanya

Sumber: Belajar Berkarya

26 Maret 2022

Hujan

Hujan tampak begitu riang

Datang di waktu yang salah

Membelenggu waktu yang terisak

Membungkus dunia yang gelisah





Oh, hujan

Mengapa begitu cepat datang?

Bersama langit tanpa cahaya

Membawa senyum yang sekarat

Bagaimana aku bisa melangkah

Mengejar impian yang tersisa

Oh, hujan 

Mengapa kau tak kunjung reda?

Tiba-tiba petir datang

Suasana hati makin mencekam 

Aku jadi ingat Tuhan

Oh, hujan

Lihat! Hatiku berdegub kencang

19 Maret 2022

Sampah Terjahanam by Ayaka Ochiro

Debar kental menyetubuhi rasa

Bayang angkara meruah noda

Setajam pandang menghitam

Cawan memabukkan kepayang legam


Iringan tangis seperih duka bersenggama

Terjatuh di ngarai berhala

Persembahan dunia hanyalah petaka

Jeruji erat mengikat durja



Bayang neraka terbuka penuh bara

Mata pedih siksa menghampiri

Dikoyak tak kunjung henti 

Dahsyat menguliti


Datang dan pergi berbekal amal

Baik berbuah manis

Buruk menjadikan sampah terjahanam

Pembenaran sejatinya pengadilan 

Fakta tanpa rekayasa

12 Maret 2022

Kopi by Ayaka Ochiro

Untuk pertama kali

Dalam lima belas tahun terakhir,

Kurasa pekatnya kopi malam ini





Tak senikmat kopi darimu

Tak jua semanis romansa yang kau tonton dulu

Atau ... aku yang tawar sejak kepergianmu?


Ditemani secangkir kopi,

Di sini kumenanti

Walaupun kau tak pernah kembali


Banjarnegara, 16 Mei 2022