Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

09 Juni 2022

Mata

Cerita ini bermula di SD sekitar kelas 4. Setiap sore di hari Selasa dan Kamis selalu ada ekstra drumband. Awal-awal latihan biasa aja dan berjalan lancar, tapi beberapa minggu kemudian mulai terjadi keanehan karena sering banget ada kejadian-kejadian janggal tiap kita mau latihan. Semua anggota menganggap ini biasa aja. 


Di suatu sore kita latihan geladih resik buat tampil di suatu acara, tapi aku lupa acara apa. Sore itu aku sama tiga temenku lagi nyari stik drum yang mungkin keselip diantara balera. Nah di situ kita ngeliat darah di salah satu seragam drumband. Bukan sekedar percikan atau apa. Itu kayak  memang asli ada di situ. Darahnya lebih mirip kek genangan. Satu temenku yang memang anaknya penakut bilang dia ngerasain aura yang nggak enak dari situ. Dia langsung cepet-cepet keluar dari ruangan itu dan nyisain aku sama dua temen ku. 


Kita tetep lanjut nyari, sampe kita ngerasa kayak ada yang ngeliatin dari arah samping dan kebetulan samping itu lemari seragam. Oke kita beneran takut nihh. Sampe temenku yang berani sekalipun juga ikut keluar dan nyisain aku sama satu temen laki-laki ku, namanya Farhan. 



   "Kamu ngerasain nggak?" 


Dia tanya gitu. Aku pun juga udah keringat dingin karena aku juga ngerasain hal yang sama.


   "Berdoa aja, semoga Tuhan melindungi kita dari mereka yang ngga kelihatan." Farhan bilang gitu. 


Aku juga pegang kalung rosarioku dan berdoa sama Tuhan. Aku tutup mata ku, sambil tanganku yang kanan pegang kalung dan yang kiri aku gandeng tangan temen cowokku, karena aku beneran takut gitu, ya namanya juga masih anak kecil.

"Atas Nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus..." Kita bentuk tanda salib dulu sebelum beroda 


"Roh Allah, Bapa, Putera dan Roh Kudus, Tritunggal Mahakudus, Perawan Maria yang tak bernoda, para malaikat, malaikat Agung, dan para kudus di surga, turunlah atas aku. Murnikanlah aku Tuhan, bentuklah aku, penuhi diriku dengan diri-Mu, gunakanlah aku. Enyahlah seluruh kekuatan jahat daripadaku, hancurkanlah mereka, taklukkanlah mereka, sehingga aku sehat dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. 

Enyahkanlah daripadaku seluruh mantera, guna-guna, ilmu hitam, tenungan, keterikatan, kutukan dan tatapan yang mendatangkan kutukan; pengerumunan setan, penganiayaan setan, kerasukan setan; seluruh yang jahat dan yang berdosa, iri hati, pengkhianatan, kedengkian; penyakit jasmani, penyakit kejiwaan, penyakit moral, penyakit rohani, penyakit yang bersumber dari setan..." Ini aku baca doa pengusiran setan yang biasanya Romo ajarin ke kita semua di setiap pertemuan remaja gereja atau lagi ada pengusiran setan dan penyucian lainnya. 


Entah doa apa aja aku sebut dalam batin pokoknya ilang aja dia yang ganggu dan akhirnya memang beneran ilang mereka. Aku sama Farhan udah nemuin stiknya. Terus aku nggak sengaja ngelirik lemari seragam. Di situ kayak ada mata yang ngeliatin aku. Warnanya hitam. Matanya gede banget, kira-kira tiga atau empat kalinya mata manusia. Dia menyeringai ke arah aku. Giginya tajem dan panjang, terus aku liat ada air liur yang netes dari mulutnya, lebih mirip darah kalau di lihat-lihat. Dan darah di sana udah nggak ada. 


Aku langsung cepet-cepet keluar sama Farhan. Terus kita nggak sengaja ketemu sama penjaga sekolah. Dia ngeliatin kita berdua dengan tatapan aneh dan mengintimidasi kita gitu.


   "Kalian ketemu dia?" tanya penjaga sekolah. 


  "Kalian ketemu?" tanya dia lagi 


   "Kalian berdua nggak lihat matanya kan?" Kali ini matanya melotot ke aku sama Farhan terus dia langsung masuk ke ruangan yang nyimpen alat drumband tadi.


Aku sama Farhan langsung lari dan setelah itu kita keluar dari ekstra drumband dan nggak pernah lagi masuk ke ruangan itu. Bahkan penjaga sekolah juga ilang nggak tau kemana. Aku udah ga pernah masuk lagi keruang itu. Pas aku lulus sd aku sempatin buat ke sana lagi, buat pamit aja sama penunggu yang di sana. Dan penunggu yang di sana ga mengijinkan aku buat pergi dari sana. Badanku serasa di kunci gitu, ga bisa gerak. Jangankan gerak, buat teriak aja ga bisa, jadi cuma bisa nangis sambil berdoa dalam hati mohon pertolongan Tuhan. Bersyukurnya ada temenku (bukan Farhan) yang nolongin buat ngusir. Kata temen aku itu ga boleh lagi balik ke sana, aku ga tanya lebih jauh lagi, aku juga paham maksud dia. Jadi setelah lulus SD udah ga pernah lagi ke sana, ke sekolah itu lagi dan kita balik lagi ke daerah kita masing-masing. Temenku balik ke Solo dan aku balik lagi ke Jombang. Kita ketemuan cuma tiap bulan Desember sampai Januari aja, sekalian buat ngerayain Natal dan tahun baru. Rasa trauma sama kejadian itu tetep ada, cuma ga terlalu. 


Dan segitu aja pengalaman yang masih terus inget sampe sekarang, tiap liburan ke Bandung pun selalu dapet mimpi kejadian itu. Walaupun kata kakak ku itu cuma sekedar mimpi, tapi tetep aja takut kalau makhluk itu masih tetep ngikutin.

29 Mei 2022

Aku Seterkenal Itu?

    "Jadi, orang tua lo serius mau pisah?" tanya Amel tak percaya. Ia pikir berita yang tersebar itu hoax karena saat Amel bertamu tiga bulan yang lalu keduanya masih tampak harmonis 


    "Ya ... itu keputusan mereka. Bonyok cerai dan ngerebutin hak asuh. Gue di kamar dengerin mereka kek gitu jadi mikir 'gue seterkenal itu ya, sampe harus direbutin'." jawabnya disusul tawa


Amel yang tadinya prihatin dengan keadaan sahabatnya tiba-tiba menggerutu, "Itu mulut apa toa masjid sih! Heran gue."


   "Lo ganti nama jadi 'Heran' kok nggak bilang-bilang gue." Julia merajuk (baca: senang telah meledek Amel)


   "Pen mengumpat, tapi takut dosa."


Buku jari Amal mulai memetik gitar di pangkuannya. Salah satu penggemar Fang di film Boboiboy itu mulai bernyanyi dan memetik gitar secara bersamaan. Hey Jude menjadi pilihannya.



   "Meneteskan air mata gue."


   "Iya dong. Suara gue kan bagus. Lo pasti terharu," tutur Amel sambil kembang kempis, percaya diri


   "Bukan itu. Gue sedih sampe netesin air mata karena sama sekali nggak tau arti lagu yang lo nyanyiin." Hampir-hampir Amel khilaf melempar gitar warna coklat keemasan itu pada sahabatnya kalau saja ia tak ingat mamanya bisa berubah jadi monster jika ia minta dibelikan gitar baru.

22 Mei 2022

Hati Terlatih

 

   "Mba Vina mau beli apa?" tanya Mawar

   "Jangan panggil mba lah. Kan mba yang lebih tua dari aku."

Mawar hanya pengentasan sambil meminta maaf. Vina memesan jus rasa coklat dan segera dibuatkan oleh Mawar. Seminggu yang lalu, Mawar membuka warung kecil-kecilan. Cukuplah untuk memenuhi hasrat ngemilnya.

   "Ini jusnya dan ini kembaliannya Mba. Makasih."

Mawar yang kembali khilaf kembali nyengir. Kebiasaannya susah dikendalikan.

   "Kenapa sih semua orang dipanggil mas, mba, padahal mereka lebih muda dari mba."

   "Aku udah kebiasaan. Hatiku udah terlatih buat ngucapin hal itu. Kamu tau Bintang?" tanya Mawar kemudian



   "Iya?"

   "Dari segi umur, aku emang lebih tua dari Bintang, tapi karena keluargaku masih megang adat demi kesopanan, aku harus manggil dia dengan sebutan mas. Dalam silsilah keluarga, aku lebih tua dari mba Tiara karena nenekku itu kakak dari kakeknya mba Tiara. Harusnya dia manggil aku dengan sebutan mba, tapi berhubung dia lebih tua, aku diperintahin supaya manggil dia dengan sebutan mba. Daripada ribut, aku lebih milih ngalah. Dari kecil aku dididik untuk jadi gadis penurut. Di keluargaku, aku cuman jadi eksekutor bukan legislator."

Ah, jadi itu sebabnya dia jadi people pleaser, batin Vina

   "Berubah dong. Emang nggak bosen jadi eksekutor mulu."

   "Ya ... mungkin satu atau dua bulan yang akan datang. Lagi ngumpulin nyali dulu buat jadi pemberontak."

08 Mei 2022

Buah Kesabaran

Pada suatu pagi, Catya, si kucing kecil sedang mencari makan. Keadaannya sangat memprihatinkan. Kurus, kering dan kini, mengais makanan di tempat sampah.

Brukk

   "Minggir kau! Membuat berantakan aja kerjaannya!"

Catya kesakitan, tapi wanita itu sama sekali tak menghiraukannya.

   "Meong, meong, meong (Aku hanya lapar)."

Tak ingin merasa sakit untuk kedua kalinya, Catya mengalah dan mencari makan ke tempat lain.

Ia terus berjalan dengan rasa sakit yang masih terasa. Tiba di sebuah perumahan, ia mencium sesuatu. Terasa lezat. Catya menghampiri aroma tersebut dan benar saja, ada ikan matang tergeletak di tanah. Catya berniat mengembalikannya tapi-

Byurr

Kulitnya terasa melepuh karena disiram air mendidih. Ia meloncat menghindari siraman berikutnya akan tetapi ia tak sengaja menyenggol piring berisi ikan. Bertambah marahlah pemilik ikan tersebut. Catya diseret dan kembali dibenturkan ke dinding. Ia terus meminta maaf, tapi tak digubris.

Tubuh Catya dipungut dan kembali dibenturkan ke dinding. Darah mengucur dari kepalanya. Perlahan, pandangannya menggelap dan akhirnya benar-benar padam.

Beberapa menit kemudian, ia mengerjap-ngerjapkan mata. Rasa sakitnya tiba-tiba lenyap dan di depannya, sesosok makhluk bersayap sedang membaca sebuah buku. Apakah dia-

   "Catya, kami menghargai kebaikan yang kau lakukan. Sekarang, ikutilah aku pergi ke lajur kanan. Tuhan telah menyiapkan sebuah hadiah untukmu."

Catya tak henti-hentinya berterima kasih karena ia diberi hadiah surga oleh Tuhan.

24 April 2022

Voucher

Selama dua hari berturut-turut, aku ikut Abi menjaga konter di daerah Bulungan. Kebetulan, Abi punya konter sendiri. Aku senang melihat konter Abi yang beberapa hari ini ramai.

   “Silakan duduk dulu, Mba,” ucap Abi, masih melayani pelanggan yang datang lebih awal. Akan tetapi kakak itu sepertinya tidak mendengar. Jarinya terus terpaut dan tidak tenang. Apakah kakak itu ... gugup?

   “Kak?” sapaku pelan, “Kakak mau permen? Kayaknya kakak gugup. Atau ... aku ambilkan air mineral?”

   “Eh, nggak perlu, makasih.” Kakak yang belum kuketahui namanya itu tersenyum. Aku heran mengapa banyak orang yang saat tersenyum matanya menjadi sipit? Apakah putih-putih matanya terseret ke pipi? Soalnya pipi kakak itu menjadi lebih gendut sama seperti orang-orang yang sebelumnya kulihat.

   “Ada yang bisa saya bantu, Mba?” tanya Abi

   “Sebelumnya kenalin namaku Ana, Om. Om pernah liat orang ini?” tanyanya sambil memperlihatkan layar hp yang menampilkan foto wanita cukup gendut dengan gamis biru dongker 

   “Owh itu, Bi, yang kemaren nuker voucer. Yang sama Aira,” seruku 

   “Nah iya, itu, aku keponakannya dia. Sebelumnya aku minta maaf, tapi kayaknya ada sedikit kesalahpahaman. Soalnya aku tadi pagi nemu ini.” Kak Ana memperlihatkan isi dalam amplop putih. “Tadi pagi aku nemu dua voucer. Ini yang kemaren buat tukeran dan ini voucer yang belum digosok. Tulisan tangannya sama, jadi kayaknya yang voucer nggak bisa digunain itu voucer yang aku beli dulu. Ini aku kembaliin satu yang belum digosok.”

   “Barakallah fiikum.” Tampak kekaguman di wajah Abi. Sepersekian detik, Abi mengambilkan beberapa permen, “Berikan ke kakak jujur, Nak.”

Menuruti perintah, aku menyodorkan beberapa permen yang sengaja dipersiapkan konter untuk memberi kembalian di bawah lima ratus rupiah.

   “Permennya buat kamu aja ya, Cantik. Kan kakak cuman ngelakuin apa yang seharusnya dilakuin. Karena kakak cuman bayar satu voucer, jadi dapatnya juga satu. Lagian kata mamanya kakak, melakukan kebaikan ngga perlu berharap imbalan,” ujarnya kemudian tersenyum simpul. Namun sepersekian detik-

   “Ya Allah aku lupa! Mama belum dijemput. Om, Cantik, aku pamit dulu ya. Makasih permennya. Assalamu’alaikum,” ucapnya sambil berlalu

   “Wa'alaikumussalam.”

   “Ayo, Sayang, kita juga harus jemput Ummi,” ajak Abi

Sepanjang perjalanan, aku terus kagum dengan aksi kak Ana tadi. Jarang-jarang ada orang seperti dirinya di dunia ini.

   “Assalamu’alaikum.”

Sapaan Ummi yang tiba-tiba, berhasil membuatku terlonjak. Sejak kapan aku dan Abi sampai di tempat pengajiannya Ummi?

   “Wa'alaikumussalam. Kaget aku tuh, Mi.”

   “Anak Ummi kenapa?” 

   “Aku kagum sama kak Ana. Ternyata voucer yang aku ceritain ke Ummi kemaren itu bukannya nggak berfungsi, tapi emang udah dipake sebelumnya. Kak Ana udah cerita dan ngembaliin voucer yang dibeli pertama,” jelasku

   “Kan, Ummi bilang juga apa. Kita khusnudzon aja. Allah akan sesuai prasangka hamba-Nya dan Allah akan bersama orang-orang yang memohon pada-Nya (HR. Muslim),” jelas Ummi. “O iya, kenalin ini temen Ummi namanya Fatma. Fat, ini anakku yang bungsu namanya-“

Deruman motor menengahi pembicaraan. “Mama, maaf aku terlambat jemputnya. Aku tadi ada urusan dikit,” ucap pengendara motor itu. Aku seperti mengenali suaranya. Terdengar seperti-

   “Kak Ana,” panggilku agak ragu

   “Eh, Cantik. Kita ketemu lagi ternyata.”

   “Iya,” ucapku kemudian terkekeh. “Ih keren kakak tadi mah naik motornya. Mana jujur dan asik. Coba kalo kak Ali seasik kakak.”

   “Kamu nggak perlu khawatir. Kak Ana bakal jadi kakak kamu kok,” celetuk Fatma

   “Caranya, Tante?”

   “Menikahkan kakakmu dengan kak Ana.” Ucapan Fatma kemudian dihadiahi tatapan mencekam dari anaknya

17 April 2022

Pulsa

Ranti meminta Bayu untuk membelikan pulsa ke rumah Sari. Ia lupa bahwasannya masa aktif kartunya hanya tinggal sehari.


"Mba beli pulsa," ucap Bayu terengah-engah

"Nomernya mana, Yu?"

Ia memberikan secuil kertas dan selembar uang lima puluh ribuan. Mengetuk beberapa angka dan ... selesai. Pulsa telah sampai tujuan dengan keadaan sehat wal afiat. Kemudian menilik ke belakang. Kali aja masakanku sudah matang.

Satu jam
Dua jam
Tiga jam

Semua tugas telah terselesaikan. Tinggal menghirup udara segar. Kubuka pintu. Aku terkejut. Bayu masih di sana. Apakah aku lupa memberi uang kembalian? Tapi bukannya Bayu cuman ngasih selembar uang lima puluh ribu?

"Bayu kok masih di sini?" tanyaku

"Iya kan Mba Sari belum ngasih pulsa jadi ya aku masih di sini."

Aku menepuk jidat, refleks. "Tadi udah dikirim. Coba tanya ke mama udah sampe apa belum pulsanya. Kalo belum, Bayu ke sini lagi."

Ia berlalu sementara aku masih berkutat pada pikiranku. Aku yang penjual pulsa aja nggak tau bentuk pulsa apalagi anak usia 5 tahun.


10 April 2022

Sebuah Alasan

 "Orang bener-bener pemberian dari Tuhan kaya gitu malah dibelah segala," gerutu Iyem kala mendengar Anti, tetangga sebelah dioperasi karena tidak bisa melahirkan secara normal.


Sejenak, Claudia tersenyum kemudian mengikuti Iyem melenggang ke dalam. Iyem mendesis diikuti sumpah serapah karena kakinya terkena duri dari bunga mawar milik Claudia.


"Kamu ini gimana  sih?! Nyapu nggak bersih. Malah ada duri mawar di sini," omelnya diikuti desisan yang sama


Lagi-lagi Claudia tersenyum, "Sini, aku bantu."


Claudia mengambil pipet di laci nakasnya kemudian berusaha menarik duri itu keluar.


"Apa nenek tau? Kenapa Raka mengorek kuping? Atau lebih sederhananya, kenapa aku harus bersusah-susah mengorek tanah yang awalnya terlihat baik-baik aja?" tanya Claudia dibalas lirikan dari Iyem. "Itu karena sebuah alasan. Raka ingin membersihkan telinganya. Aku menggunakan pipet ini, mengorek-orek kaki nenek yang sekilas baik-baik aja juga punya alasan. Begitu juga dokter. Dokter punya alasan kenapa harus membelah perut mba Anti. Dokter ingin mengambil bayi di perut mba Anti supaya mba Anti nggak ngerasa sakit dan leluasa bergerak sama seperti nenek sekarang," Claudia menurunkan kaki Iyem dan mengembalikan pipet ke tempat asalnya karena persentasenya telah selesai.

03 April 2022

Terbaik atau Berbeda

Brian mengajakku ke kafenya malam ini. Kuiyakan saja, toh aku perlu asupan kafein. Sepuluh menit perjalanan, akhirnya kami sampai kemudian disambut dengan run text



"Lu kalo buat nama nggak pernah bener," tegurku seraya berpikir apakah dia bukan berasal dari spesies yang sama denganku? Mengingat sapi yang ia pelihara bernama Rama walau berjenis kelamin betina


"Kata bu Dian dulu kalo nggak bisa jadi yang terbaik, jadilah yang beda. Dengan begitu orang bisa nginget kita."

"Iya tapi nggak-"

Suaraku terpotong oleh dering benda pipih di saku jaketnya. "Lo duluan aja. Ntar gue nyusul."


Aku pun menuju tempat duduk dekat narita dan memesan doppio. Doppio adalah istilah lain untuk double shot expresso.

"Bang Ngga, tau nggak kenapa kopi nggak boleh diseduh air panas sekali?" tanya seorang barista bernama Arjuna

"Jan ngadi-ngadi lu. Biasanya aja gue sedih kopi pake air panas sekali terus buang kenapa sekarang jadi nggak boleh?




Bisa ditebak, pasti dia belajar dari Brian.




27 Maret 2022

Syukuri Apa Yang Ada

Catya adalah salah satu kucing yang beruntung. Pasalnya ia masih diberi banyak sekali kenikmatan oleh Tuhan. Ia masih diberi oksigen secara gratis, makanan enak dan pemilik yang begitu mencintainya.

"Catya, ayo mandi dan bersiap," ujar Rara, pemiliknya

"Kita mau kemana?" tanya Catya menggunakan bahasa kucing

Rara yang tidak mengetahui maksud dari kucingnya terus memandikan, mengeringkan dan menyisir bulu halus Catya.

"Kau tau kemana kita akan pergi? Tempat ini tuh indah banget. Pasti kamu bakal suka. Aku aja langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pas kak Cantika ngajak aku ke sana pertama kali."

Rara telah selesai mendandani peliharaannya. Ia menghilang sebentar dan kemudian kembali dengan pakaian bernuansa pelangi favoritnya.

"Semuanya sudah siap?" Ivore bertanya dengan antusias

"Siap," balas Cantika, Anya dan Rara serentak

Mobil keluar dari garasi tepat pukul 07.15. Perjalanan hari ini pun tak sepadat weekend kemarin menjadikan mereka hanya perlu waktu seperempat jam untuk sampai tujuan.


Mereka telah sampai dan langsung menuju spot favorit Rara. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur karena kagum atas pemberian Tuhan


20 Maret 2022

Cara Membuat Orang Tua Kompak

Note: Tidak untuk ditiru. Cukup diambil hikmahnya

Adikku bercerita bahwa temannya sedang bingung. Bukan karena harga BBM yang meningkat, tapi karena masalah hidupnya yang berat. Diusianya yang hampir menginjak tujuh tahun, ia rutin mendengar pertengkaran kedua orang tuanya minimal 2× sehari yang berdampak buruk bagi kerapihan rumah mereka.



"Menurut kakak gimana? Dia minta saran dariku, tapi aku nggak tau mau kasih saran apa."

"Itu masalah gampang. Tinggal tahan napas 30 menit aja pasti mereka bakal kompak hahaha."

Tak ada pembahasan setelahnya. Karena baik aku maupun adikku sama-sama fokus pada layar yang menampilkan tokoh utama dengan ciri khas botak.

Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi, gendang telingaku nyaris dibuat rusak oleh suara toa masjid yang menggumamkan "innalillahi wa inna ilaihi rajiun". Tunggu, tunggu! Tadi siapa nama yang disebut-

"Kak, saran dari kakak berhasil. Kedua orang tua Rangga sekarang kompak. Liat tuh!" Aku mengikuti arah yang ditunjuk. Di sana, puluhan orang berbaris dengan teratur disertai tangisan dari keluarga Rangga.

Aku yang salah ngomong atau dia yang bego sih?!


13 Maret 2022

Cinta Tanpa Syarat

Seorang tentara akhirnya pulang ke rumah setelah berperang di Vietnam. Ia menelepon orangtuanya dari San Francisco.

   "Ibu, Ayah, aku akan pulang, tapi aku memiliki satu permintaan. Aku mempunyai teman yang akan aku bawa pulang bersamaku."

   "Tentu saja," jawab mereka, "kami akan sangat senang bertemu
dengan temanmu itu."

   "Tetapi ada yang perlu kalian ketahui," putranya melanjutkan pembicaraan, "ia terluka berat akibat perang. Ia terkena ranjau saat tidak sengaja berjalan di atasnya dan dia kehilangan lengan dan kaki. Dia sudah tidak punya tujuan lagi dan saya ingin ia tinggal bersama kita."

   "Kami sangat sedih mendengar ceritamu, Anakku. Mungkin kita
bisa membantunya mencari tempat tinggal."

   "Tidak, Ibu, Ayah, aku ingin dia tinggal bersama kita."

   "Anakku," ayahnya berkata, "kau tidak mengerti apa yang kau minta. Seseorang dengan kecacatan akan menjadi beban bagi kita. Kita
memiliki kehidupan kita sendiri dan kita tidak bisa membiarkan hal seperti ini mengganggu hidup kita. Ayah pikir, kau hanya perlu pulang ke rumah dan lupakan tentang temanmu itu, Nak. Dia pasti akan menemukan cara untuk hidupnya sendiri."
Pada saat itu juga, sang anak menutup teleponnya. Sejak saat itu orang tuanya tidak pernah mendengar kabar dari anaknya. Namun, beberapa hari kemudian mereka menerima telepon dari kantor polisi San Francisco. Mereka memberikan kabar bahwa anaknya meninggal setelah jatuh dari sebuah gedung. Polisi meyakinkan bahwa itu bunuh diri. Orang tua yang sedang terserang kesedihan itu pun langsung terbang ke San Francisco dan dibawa ke kamar mayat kota untuk mengidentifikasi jenazah anaknya. Mereka mengenalinya, tetapi yang
membuat mereka ngeri adalah mereka juga menemukan sesuatu yang tidak mereka ketahui: anak mereka hanya memiliki satu tangan dan satu kaki.


06 Maret 2022

Buah Kerja Keras

Selama dua bulan terakhir, sebagian murid SMP Muhammadiyah Purwareja Klampok bekerja keras lebih dari biasanya. Mereka adalah murid-murid yang terpilih sebagai anggota marchingband Bahana Putra Mentari. Setiap tahun di kota Banjarnegara diadakan festival drumband dan SMP Muhammadiyah terpilih untuk memeriahkan festival tersebut. Semua anggota sangat antusias mendengarnya.


Acara festival akan segera dimulai. Semua orang sedang menunggu waktu pentas. Hingga tibalah saatnya Bahana Putra Mentari tampil. Tak ada yang lebih manis dari buah kerja keras dan doa. Hasil kerja keras mereka menjadikan piala layak dibawa menuju sekolahan yang didominasi warna biru itu.



27 Februari 2022

Ulang Tahun

   "Selamat ulang tahun, Bang. Semoga panjang umur, sehat selalu dan tambah segalanya dalam hal kebaikan," doa Rara


   "Makasih adek abang yang cantik."


   "Nih buat kamu," timpal Sisil sambil menyerahkan kue super estetik



Nico melotot saat melihat bentuk kue itu, "Ini serius kue ulang tahun aku, Yang?"


  "Iya, serius. Aku lagi pengen nyoba hal baru. Gimana? Bagus kan?"


Nico mengacungkan kedua jempolnya dan senyum terpaksa, "Bagus banget," jawab Nico antusias


   "Aku tau abang tertekan," gumam Rara, lirih