17 Maret 2022

(Bukan) Gila

Hampir semua orang di wilayah kami menganggap kakakku malas, aneh dan gila. Bahkan sebelumnya aku dan keluargaku pun berpendapat sama. Kak Raya lebih suka seharian di kamar atau pergi bersama kak Juan. Sesekali mendengar lagu atau bertelepon entah dengan siapa.

Hari ini, kak Raya dimarahi seperti biasa karena rumah berantakan. Hp yang biasa ia gunakan disita. Dalam waktu seminggu ia tidak boleh menggunakan benda pipih itu.

   "Kakakmu kemana, Sa?" tanya Mama

Ya begitulah tabiatnya. Setelah "virus gilanya" kumat, ia pasti akan menghilang dengan dalih ke rumah kak Juan kemudian akan pulang jam setengah enam sore. Aku jadi curiga bahwa mereka pacaran dan ... hate my mind.

Waktu menunjukkan pukul 17.49, tapi kak Raya belum juga pulang. Bertambah buruklah pikiranku. Aku meminta izin pada mama untuk boleh mencari kak Raya. Kuitari kompleks tapi tak ketemu. Apakah di rumah-

   "Kak Juan?!" panggilku

   "Eh, hai, Raisa. Kamu nyari Raya?"

Aku mengangguk kemudian mengekor pada Kak Juan menuju rumahnya, tapi ini sama sekali bukan jalan menuju rumahnya.

   "Heh adek useless! Balik lo jangan pacaran mulu!" Aku berbalik. Di depan sana ada Kak Raya dan Kak Juan. Aku jadi berpikir siapa orang yang bersamaku tadi?

Makhluk yang sebelumnya kupikir adalah Kak Juan membekap dan membawaku dalam dekapannya. Tiba-tiba kami (aku dan makhluk itu) berada di rumah mewah lengkap dengan penjaga yang menyeramkan.

Dia menyeret dan menyuruhku untuk membersihkan rumah mewah itu bersama ratusan manusia lain. Tiada jam tanpa membersihkan rumah. Setiap harinya ia juga membawa orang baru yang ditugaskan sama sepertiku.

Aku sudah pasrah jika harus terjebak di sini selamanya. Terlebih saat kulihat Kak Raya dan Kak Juan juga datang digiring oleh berbagai jenis makhluk. Tunggu! Makhluk itu hustru melawan penjaga rumah besar ini dengan komando Kak Raya.

Perang itu terjadi. Untuk pertama kalinya kulihat Kak Raya berkelahi dan menggunakan senjata. Dia terlihat sangat keren.

   "Denger semuanya! Kami nggak bisa ngulur waktu lama. Pegangan tangan dan ikuti instruksi curut di depan!" teriak Kak Raya berusaha menunjuk Kak Juan

Semuanya patuh, tapi kalau kami yang pergi dulu, bagaimana dengan Kak Raya dan Kak Juan?

   "Kakak juga harus ikut kami," pintaku

   "Gue nggak punya banyak wak-" Kak Raya memuntahkan darah dari mulutnya kemudian mendesis. "Sebagai pengantar arwah, gue tau konsekwensinya. Kalian belum saatnya bertemu Tuhan jadi sekarang, pergi! Jangan buat apa yang gue lakuin sebulan terakhir jadi sia-sia." Aku terdorong menuju ke arah Kak Juan. Dalam mode lambat, aku bisa mendengar permintaan maaf Kak Raya walau disertai isak. Untuk pertama dan terakhir dia menangis karena setelahnya, aku tak pernah lagi melihat Kak Raya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar