10 Maret 2022

Sirah

Aku baru saja mengantar temanku, Tini, menuju rumahnya. Jangan salah sangka. Kami tidak memiliki hubungan spesial dan hanya sebatas teman biasa. Toh kami masih kelas 11 SMA yang dimana sebentar lagi akan menghadapi monster bernama ujian.


"Ton, kamu kalo lewat jalan ini hati-hati ya," nasehat Tini tiap kali kami melewati jalan bernama Sirah


Konon katanya dulu sempat terjadi kecelakaan tunggal yang mengakibatkan korban tewas seketika. Motor yang dikendarai korban ringsek dan anggota tubuhnya tercerai-berai membuat polisi sulit mengidentifikasi mayat tersebut.


Satu minggu setelah kejadian itu, polisi menggabungkan tubuh korban yang ditemukan. Akan tetapi, pihak kepolisian tidak pernah menemukan kepala si korban sampai sekarang. Oleh sebab itu, jalan tersebut diberi nama "Sirah" yang dalam bahasa warga setempat artinya "kepala" untuk mengenang kejadian naas tersebut.


"Hadeuh mana udah mau senja lagi," gerutuku setelah pulang dari ekstrakurikuler dan mengantar pulang Tini sampai tujuan


Bruk


Firasatku di sini benar-benar buruk. Gimana kalo-


"Owh cuman tempurung kelapa." Aku berhenti dan mengambil tempurung kelapa itu untuk diletakan pada tepi jalan. Akan jadi bahaya kalo ada orang yang ngebut dan tempurung kelapanya masih ada di tengah jalan


"Mas," panggil seseorang dan aku menoleh. "Liat kepala saya nggak?"

Aku gemetaran dan perlahan melihat tempurung kelapa yang kupegang tadi. Antara kaget dan takut, kutinggalkan motor kala melihat tempurung kelapa itu berubah menjadi tengkorak kepala dengan senyuman iblis di bibirnya. Aku bersumpah tidak akan lewat sana lagi apapun alasannya!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar