04 April 2022

Hamil Usia Muda dan Dampaknya

Sekarang lagi banyak banget ngga si yang nikah di usia muda dan hamil di usia muda? tak hanya berdampak secara sosial dan ekonomi, hamil usia muda merupakan masalah serius, karena kebanyakan remaja merasa belum siap secara fisik dan mental untuk hamil dan menjalani tanggung jawab serta peran sebagai orang tua.

Berdasarkan data yang telah dihimpun oleh UNICEF, pada tahun 2018, diperkirakan setidaknya ada 1,2 juta perempuan yang menikah di usia kurang dari 18 tahun. Bahkan, sekitar 432 ribu di antaranya sudah hamil di usia 18 tahun atau lebih muda.

Bahaya Hamil Usia Muda

1. Kematian ibu dan bayi

Semakin muda usia perempuan saat hamil, semakin tinggi pula risikonya untuk mengalami berbagai masalah dalam kehamilan. Risiko ini tidak hanya berbahaya bagi kesehatan dirinya, tetapi juga janin dalam kandungan.

Tubuh perempuan remaja juga masih terus mengalami pertumbuhan dan umumnya belum siap untuk menjalani proses persalinan, misalnya karena panggul sempit.

Selain itu, karena alasan malu atau hamil di luar nikah, tidak sedikit remaja wanita yang menutupi atau merahasiakan kondisinya, sehingga kesehatan tubuhnya serta janin tidak terpantau. Berbagai masalah tersebut bisa meningkatkan risiko kematian remaja yang hamil di usia muda dan juga janinnya.

2. Kelainan pada bayi

Perempuan yang hamil di usia muda terkadang tidak mendapatkan dukungan dari keluarga atau bahkan pasangannya. Terkadang, kehamilan juga bisa saja tidak diinginkan. Hal ini bisa saja membuat mereka kurang mendapat perawatan yang memadai.

Sebuah riset menunjukkan bahwa masih banyak remaja hamil yang kurang gizi. Kebutuhan nutrisi yang tidak tercukupi dapat meningkatkan risiko janin untuk mengalami berbagai kelainan, seperti penyakit bawaan lahir, terlahir prematur, atau bahkan keguguran. Dan itu menyebabkan anak jadi stanting

3. Komplikasi kehamilan

Perempuan yang hamil di usia muda berisiko lebih tinggi terkena komplikasi kehamilan, seperti tekanan darah tinggi dan preeklamsia. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa berbahaya bagi ibu dan janin.

4. Berat badan lahir bayi rendah

Persalinan prematur merupakan salah satu masalah yang cukup sering terjadi pada perempuan yang hamil di usia remaja atau terlalu muda.

Perlu diketahui bahwa bayi yang terlahir prematur memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan pernapasan, pencernaan, penglihatan, serta masalah tumbuh kembang.

5. Penyakit menular seksual

Remaja yang berhubungan seksual di usia muda lebih berisiko menderita penyakit menular seksual, seperti HIV, klamidia, sifilis, dan herpes. Hal ini bisa disebabkan oleh ketidaktahuan atau belum matangnya pola pikir mereka tentang hubungan seks yang aman, termasuk pentingnya penggunaan kondom.

Penyakit menular seksual yang tidak diobati bisa menyebabkan berbagai komplikasi pada kehamilan, mulai dari kelainan genetik pada janin, bayi terlahir cacat, kelahiran prematur, hingga kematian janin di dalam kandungan.

Selain itu, dalam jangka panjang, penyakit menular seksual juga bisa menyebabkan radang panggul dan kerusakan pada tuba falopi, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik.

6. Depresi pascamelahirkan

Remaja perempuan lebih berisiko mengalami depresi pascamelahirkan karena merasa tidak siap, terutama jika tidak mendapat dukungan dari keluarga atau pasangan. Depresi berisiko membuat mereka tidak mampu merawat bayinya dengan baik atau bahkan berniat untuk membuang atau mengakhiri nyawa bayinya.

Remaja perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan juga sering menghadapi tekanan dari banyak pihak dalam berbagai bentuk. Misalnya, desakan untuk menggugurkan kandungan, ketakutan akan anggapan dari masyarakat, atau kekhawatiran akan kemampuan finansial untuk mengurus bayi di masa depan.

Cara Menghindari Masalah Kesehatan Selama Hamil di Usia Muda

Meski risiko mengandung dan melahirkan di usia muda sangat tinggi, tetapi ada cara yang dapat dilakukan agar kondisi kesehatan ibu dan janin tetap terjaga, di antaranya:

• Konsultasi rutin ke dokter kandungan

Agar kondisi kesehatan ibu dan janin tetap terjaga, penting untuk menjalani pemeriksaan kandungan ke dokter kandungan atau bidan secara rutin. Hal ini juga penting dilakukan untuk mendeteksi sejak dini bila ada kelainan atau kondisi tertentu pada janin.

• Jauhi obat-obatan terlarang, minuman keras, dan rokok

Tumbuh kembang janin dalam kandungan juga dipengaruhi oleh gaya hidup yang dijalani sehari-hari. Oleh karena itu, ibu hamil perlu menjauhi minuman keras, menghentikan kebiasaan merokok, dan menghindari penggunaan obat-obatan terlarang agar tidak membahayakan kesehatan diri dan janin.

• Penuhi asupan gizi

Saat hamil, tubuh membutuhkan banyak asupan nutrisi. Oleh karena itu, ibu hamil perlu menjalani pola makan sehat. Ibu hamil juga membutuhkan suplemen kehamilan yang mengandung beragam nutrisi, termasuk vitamin, asam folat, dan zat besi agar kondisi kesehatan dan tumbuh kembang janin bisa terjaga.

• Cari dukungan

Tidak hanya wanita yang hamil di usia muda, ibu hamil yang usianya sudah cukup dewasa juga perlu mendapatkan dukungan yang baik. Oleh karena itu, janganlah merasa malu, ragu, atau takut untuk mencari support system yang baik selama menjalani kehamilan.

Cara Mencegah Hamil Usia Muda

1. Menjalani program KB

Di Indonesia masih banyak perempuan yang tidak menggunakan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
Selain dapat mencegah kehamilan, pemakaian kontrasepsi seperti kondom, juga dapat mencegah penularan penyakit menular seksual.

2. Mendapatkan pendidikan yang memadai

Pendidikan yang baik akan membuat remaja lebih cermat mengambil keputusan dan menjaga dirinya sendiri. Pendidikan tentang seksualitas atau sex education juga perlu diberikan sejak dini, tidak hanya untuk anak perempuan, tetapi juga laki-laki.

Dengan mengetahui bagaimana proses terjadinya kehamilan serta risiko seks bebas, setiap remaja bisa membuat keputusan untuk menjauhi dirinya dari pergaulan bebas.

3. Membuat keputusan untuk diri sendiri

Banyak remaja perempuan belum menyadari bahwa tubuh dan hidupnya adalah milik dan tanggung jawabnya sendiri. Selain itu, masih banyak remaja perempuan yang tidak bisa membuat keputusan kapan mereka akan memiliki anak atau bagaimana menjaga sistem reproduksi mereka.

Oleh karena itu, pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi penting diberikan pada remaja, terutama remaja yang sudah pubertas. Dengan memperoleh informasi yang memadai, remaja diharapkan akan menghindari hubungan seksual sebelum menikah, apalagi seks di bawah paksaan. Remaja yang menjadi korban kekerasan seksual juga bisa melapor ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terdekat.

Menghargai diri sendiri serta memperkaya diri dengan pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi adalah langkah penting untuk menghindari hamil usia muda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar