Pintu rumah Ani digedor dengan keras. Suara yang familiar membuatnya membuka pintu yang hampir-hampir rusak engselnya.
"Bila kenapa kayak takut gitu? Dikejar anjingnya Hoki lagi?" tanya Ani
"Itu kata Bila dia liat ular besar," jawab Ati, ibu Bila
Mendengar kata ular, keluarga Ani langsung keluar tak lupa membawa senter.
"Ular apa?" tanya Iyem
"Nggak tau, tapi ularnya sebesar saka. Warnanya ... terus kayak ada corak bunga warna merah," jelas Bila sambil menunjuk penyangga rumah (saka)
Semua orang mengernyit. Beberapa bulan yang lalu, Ratiwen dan Wahab juga melihat ular yang besar berwarna hijau kekuningan melintasi jalan depan rumah Ani. Namun saat Ratiwen dan Wahab bersiap untuk memukul ular tersebut dengan kayu, ular itu tak ada lagi di sana. Bahkan bekas jalannya ular itu pun tak ada sama sekali. Iyem jadi berpikir negatif karena menurut kepercayaan orang-orang terdahulu, kalajengking, ular fan kucing hitam biasanya adalah jelmaan jin yang mungkin saja berniat jahat.
"Olih liwat asal brayan. Aja nyelakani, pada-pada ciptaane Gusti Allah (boleh lewat asalkan mau berkompromi. Jangan mencelakakan karena sama-sama ciptaan Allah)."
Setelah itu mereka semua bubar dan berharap hal seperti ini tak pernah terulang lagi.
"Kamu kenapa?" tanya Ani yang melihat putri sulungnya memakai jaket tebal
"Dingin banget. Mau nyari tempat yang lebih hangat."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar