"Kakak-kakak, sebentar lagi aku sih mau sekolah," ucapnya bangga
"Sekolah dimana?"
"Kata bunda di TK"
"Ya sudah, sini kakak ajari kamu menulis. Nanti kalau sudah masuk sekolah Ara jadi sudah terbiasa."
"Ara 'kan sudah pintar menulis angka satu dan dua."
"Baru angka satu dan dua. Yang lain 'kan belum. Toh, kamu belum tahu ABC. Jadi, tidak boleh sombong," ucapku menasihati
"Sombong itu apa Kak?"
"Kakak punya cerita tentang angka tiga dan sombong. Kamu dengar ya."
"Siap" ia meletakkan tangannya di dahi (posisi hormat)
"Dulu, ada anak bernama Taiga. Taiga itu suka ... sekali makan. Sampai-sampai perutnya gendut tapi dia selalu mendapat juara satu di sekolah. Sejak saat itu Taiga menjadi sombong. Ia menganggap teman-teman yang lain tidak sepandai dirinya. Oleh karena itu dia tidak pernah lagi belajar seperti dulu.
Taiga jadi semakin banyak bermain. Setiap minggu saat ayahnya pulang, ia meminta mainan baru yang mahal. Lalu ia memperlihatkannya pada teman-temannya. Teman-temannya tidak boleh meminjam. Menyentuh mainannya saja tidak boleh. Sejak saat itu, ia dijauhi teman-temannya. Ia tidak mempunyai teman lagi sekarang.
Tiba-tiba kepalanya membesar, sebesar perutnya. Taiga jadi susah berjalan. Karena panik, ibu Taiga membawa anaknya ke rumah sakit. Dokter mengatakan,
'Anak ibu telah berbuat sesuatu yang tidak baik. Ia sombong. Jika Taiga tidak meminta maaf, kepalanya akan semakin besar dan akan meletus kapan saja.'
Tamat
"Jadi, kamu tidak boleh sombong. Sombong itu tidak baik. Sombong sama saja dengan besar kepala."
"Iya, kakak. Ara minta maaf."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar