23 Juni 2022

Dibalik Pintu

 Seseorang memberi salam dari luar rumah. Itu adalah salah satu guru di sekolah anakku, Putri. Dia yang menanyakan apakah Putri sudah pulang atau belum membuatku sedikit bingung. Bukankah Putri harusnya jam segini masih di sekolah?


   "Setelah jam istirahat tadi, Putri nggak balik ke kelas bu, tapi tasnya masih ada. Saya pikir Putri udah pulang jadi saya ke sini buat mastiin."


   "Tapi Putri belum pulang pak," jawabku makin cemas


Tanpa berpikir panjang, kuambil tas dan bergegas ke sekolah Putri, diikuti guru tadi. Sesampainya kami di sekolah, guru-guru dan kepala sekolah menungguku tak kalah cemas dan dominan rasa bersalah.


   "Maaf bu Santi. Sejak istirahat tadi Putri tidak ditemukan. Putri hilang bu." Mereka mencoba menjelaskan padaku


   "Hilang? Gimana ceritanya Putri bisa hilang sementara ini masih di lingkungan sekolah!"


   "Sekali lagi maaf bu. Kata anak-anak tadi pas jam istirahat Putri dan anak-anak lain bermain petak umpet, tapi entah kenapa saat bel berbunyi Putri tak kunjung muncul."


   "Hmmm."


Aku berpikir sembari mengedarkan pandangan. Entah kenapa kakiku bergerak sendiri. Seperti ada sesuatu yang menariknya. Langkahku terhenti hingga ke depan pintu. Kubuka pintu itu dan Putri ada di sana. Di balik pintu itu. Aku dapat mendengar helaan napas lega dari guru maupun kepala sekolah. Kuputuskan untuk pulang setelah berpamitan pada semua orang yang ada di sana sambil minta maaf karena tadi sedikit emosi.


Saat di rumah, aku menceritakan kejadian ini ke ayahnya Putri. Menurut kesaksian Putri dan setau beliau, tadi Putri sempat dibawa Wewe, sesosok makhluk dengan payudara besar dan panjang hingga hampir menyentuh tanah. Beruntung Putri tidak memakan makanan yang Wewe itu berikan. Kalo makanan tersebut dimakan, Putri tidak akan bisa kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar