Pernah nggak kamu denger istilah bioteknologi? Tape adalah produk makanan yang memanfaatkan bioteknologi. Akan tetapi, bioteknologi itu apa sih?
Bioteknologi berasal dari kata bio yang artinya makhluk hidup dan teknologi artinya suatu cara (alat) untuk memudahkan manusia dalam memecahkan masalahnya atau membuat produk yang berguna. Jadi, pengertian bioteknologi adalah penerapan prinsip-prinsip biologi, biokimia, ilmu rekayasa serta ilmu lainnya dalam pengolahan bahan dengan memanfaatkan makhluk hidup dan komponen-komponennya untuk menghasilkan barang atau jasa sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan manusia.
Perkembangan bioteknologi dimulai sejak tahun 1857, setelah Louis Pasteur menemukan hasil fermentasi yang dilakukan oleh mikroorganisme. Perkembangan bioteknologi pangan selanjutnya masuk ke masa modern dan menerapkan prinsip genetika, biokimia, biomolekuler. Hal ini tidak bisa lepas dari enzim yang membantu dalam proses rekayasa genetik. Rekayasa genetik memungkinkan ilmuwan dapat merancang susunan materi genetik setiap mikroorganisme sehingga menghasilkan hewan atau tumbuhan yang berkilau tinggi.
A. Bioteknologi Konvensional
Bioteknologi konvensional adalah bioteknologi yang menggunakan mikroorganisme sebagai alat untuk menghasilkan produk dan jasa. Contoh produk pangan bioteknologi konvensional adalah tape, yougurt, keju, tempe, kecap, roti, minuman beralkohol dsb.
B. Bioteknologi Modern
Penerapan bioteknologi dalam produksi bahan pangan menjadi solusi terbaik saat ini. Bioteknologi berpotensi meningkatkan produksi tanaman budidaya dan mengurangi pemakaian bahan kimia berbahaya.
Supaya kebutuhan tersebut terpenuhi, para ilmuwan mengembangkan bioteknologi modern. Bioteknologi modern dalam produksi pangan dilakukan dengan menerapkan teknik rekayasa genetik. Rekayasa genetik adalah kegiatan manipulasi gen untuk mendapatkan produk baru dengan cara membuat DNA baru. Hal ini dilakukan dengan cara menambah atau menghilangkan gen tertentu. Salah satu produk hasil rekayasa genetik adalah organisme transgenik.
Melalui rekayasa genetik, para ahli bidang bioteknologi bisa menyusun pola gen sehingga menghasilkan organisme yang sifatnya sesuai kebutuhan. Teknik ini dikenal juga dengan istilah DNA rekombinan, yaitu proses mengkombinasikan DNA suatu organisme ke organisme lain. Pengaturan pola genetik ini melibatkan penggunaan gen organisme lain yang disisipkan ke pita DNA organisme tertentu. Organisme yang menggunakan bagian gen organisme lain di dalam tubuhnya dikenal dengan organisme transgenik. Tumbuhan, hewan dan bakteri transgenik tidak hanya digunakan untuk keperluan penelitian tapi juga untuk memenuhi kebutuhan di bidang medis dan pertanian.
1. Tanaman Transgenik
Tanaman transgenik adalah tanaman yang telah mengalami perubahan susunan genetik dalam tubuhnya. Tanaman transgenik ini merupakan alternatif agar tanaman tahan hama sehingga hasil panen melimpah. Bahkan, tanaman juga bisa direkayasa agar mampu membunuh hama yang menyerang tumbuhan tersebut.
2. Hewan Transgenik
Selain tumbuhan transgenik, ada juga hewan transgenik. Pada awalnya, hewan transgenik merupakan bahan penelitian para ilmuwan untuk menemukan penyakit yang menyerang hewan tertentu dan cara penanggulangannya. Perkembangan selanjutnya, penerapan teknologi rekayasa genetik pada hewan bertujuan untuk menghasilkan hewan ternak yang memproduksi susu dan daging yang berkualitas, ikan yang cepat besar dan mengandung vitamin tertentu dsb.
Dari banyaknya manfaat yang ditimbulkan oleh penerapan dan pengembangan bioteknologi, ada juga kerugian yang ditimbulkan.
a. Bidang Lingkungan
Organisme transgenik jika tidak dikelola dengan baik maka dapat mencemari keanekaragaman gen yang ada di lingkungan alami atau merusak plasma nutfah atau dikenal dengan "polusi gen". Misalnya tanaman jagung yang tahan terhadap herbisida, maka ketika jagung transgenik ini ditanam di lahan alami maka serbuk sari dapat membawa gen jagung transgenik dan menyerbuki jagung alami. Hal ini membuat gen-gen pada jagung alami terkontaminasi dengan gen-gen tanaman jagung transgenik.
Tanaman transgenik biasanya merupakan tanaman unggul. Hal ini membuat petani cenderung menanam tanaman transgenik dan tidak lagi menanam tanaman lokal. Akibatnya, tanaman lokal menjadi langka. Kondisi ini mengakibatkan penurunan jumlah plasma nutfah. Penggunaan tanaman transgenik juga dapat menimbulkan hama baru yang lebih kuat dari pada hama sebelumnya dan mengganggu keseimbangan ekosistem.
b. Bidang Kesehatan
Banyak masyarakat yang khawatir bahwa pengembangan tanaman dan hewan transgenik berbahaya bagi kesehatan manusia. Hal ini disebabkan karena di dalam organisme transgenik terdapat gen baru yang jika dikonsumsi oleh manusia dikhawatirkandapat memicu munculnya penyakit pada orang yang sensitif terhadap zat yang dihasilkan oleh organisme transgenik.
c. Bidang Sosial dan Ekonomi
Seseorang yang memiliki modal dapat mengembangkan pertanian transgenik yang dapat meningkatkan hasil panen yang sangat melimpah dengan kualitas yang sangat baik. Hal ini bisa membuat petani tradisional kalah saing dalam pemasaran sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi petani tradisional. Jika masalah ini terus berlanjut, maka akan menimbulkan kesenjangan perekonomian yang semakin besar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar