14 April 2022

Kamistis Edisi Ndari

Sebuah perseroan terbatas (PT) mengalami kejadian unik dimana 90% pekerjanya mengalami kerasukan masal. Orang-orang yang berpotensi menyembuhkan dipanggil untuk membantu, tapi beberapa dari mereka juga mengalami hal yang sama.


"Assalamualaikum," salam seorang pria dengan tubuh berisi


Mereka yang tadinya berteriak tidak jelas, semuanya diam. Disentillah satu per satu dari mereka, dan ajaib. Mereka sembuh.


Satu diantara 90% pekerja itu adalah Ndari. Ndari berhasil sembuh, tapi saat di rumah ia kembali kerasukan. "Penunggu rumah" senang apabila pintu jiwa seseorang terbuka karena mereka bisa menguasai tubuh orang tersebut dan melakukan apapun.


Diisi oleh empat makhluk sekaligus membuatnya dicap sebagai orang gila. Pasalnya ia kadang bersifat layaknya anak kecil, keras, keibuan, tak jarang ia berteriak tanpa sebab. Hal itu menjadi momok bagi orang-orang.


Ia telah dibawa ke tetua kampung, ustad dan orang pintar oleh pihak keluarga, tapi hasilnya nihil. Sejak kejadian itu, ia berhenti kerja dan sering main ke rumah saudaranya agar ada teman ngobrol. Konon katanya "mereka" lebih suka orang yang bengong.


"Maaf Mba, mamanya Keke ada?" tanya seorang gadis mungil dengan kaos vespa


"Ada di belakang, masuk aja," jawabnya 


Gadis itu menurut dan bertanya siapa wanita tersebut pada Ana (mama Keke) mengingat ada dua makhluk yang mengikuti wanita itu. Diceritakanlah secara singkat dan membuat gadis penyuka kartun itu heran. Bukankah omnya telah membebaskan semua pekerja tempo hari? Tapi kenapa sekarang masih ada yang tersisa?


"Banyakin ibadah dan shalawatnya ya, Mba," saran gadis tersebut sambil menepuk pundak Ndari. "Aku pamit dulu."


Gadis vespa kembali dengan gelang hitam dan permen. Ia penasaran.


"Hai, hai. Aku balik lagi. Mba mau permen?" tanya gadis itu menawari dan segera diambil oleh Ndari. "Namaku Cantika. Nama Mba siapa?"


"Jangan berpura-pura. Aku dan keluargaku tidak suka kebohongan."


"Yah ketahuan ya? Padahal aku udah berusaha meniru kakak Cantik semaksimal mungkin," ucapnya dengan raut sedih, tapi sedetik kemudian kesedihan itu lenyap


"Oke-oke. Kali ini aku jujur. Namaku Rara. Kepingan dari orang yang kakak temui tadi. Kalau kakak?" tanya Rara kemudian


"Ndari, Siti Sundari."


"Dan makhluk yang bersama kakak?"


"Kamu bisa melihat mereka?" tanya Ndari yang hanya dibalas cengengesan


"Anak dan suamiku. Amel dan Toni. Kalo kamu berniat ngusir kami, itu percuma. Sebelum terlambat, lebih baik kamu nyerah." Tiba-tiba bulu roma Ana berdiri. Ia ... merinding?


"Ngusir kalian? Aku nggak berhak buat ngelakuin itu karena pada dasarnya rumah yang sekarang ditinggali sama kak Ndari itu milik keluarga kalian. Aku cuma mau memperkenalkan tempat baru yang lebih nyaman," jelas Rara


"Tubuhmu?"


"Tetot. Sebuah gang bernama arah. Kakak tau kan maksudku?"


"Kami nggak bisa. Nenek pasti ma-" suara anak kecil terdengar, tapi segera dipotong oleh ibunya. "Amel main di taman gih. Mama sama Papa mau ngomong sama kakak ini dulu."


Amel mengangguk dan berbalik. Ia patuh.


"Amel," panggil Rara membuat yang dipanggil menengok. "Mau permen?"


"Makasih kakak baik."


"Kembali kasih. Jangan jauh-jauh. Ntar diculik om geseng."


"Om geseng?" tanya Amel bingung


"Huum. Om-om jahat yang kalo kamu ketangkep, Amel nggak bakal bisa ketemu sama mama papa lagi. Amel juga akan jadi keras dan jahat." 


"Kaya nenek?" tanya Amel lagi


"Ada kemungkinan gitu. Amel bantu doa ya. Kata guru ngajiku, doa anak sholeh atau sholehah cepat terkabul."


Rara, Sinta (Ndari) dan Toni sepakat menuju rumah. Mereka disambut desisan marah Dasirah (nenek Amel). Dasirah tiba-tiba bernyanyi, membuat Sinta dan Toni beralih dan menyerang Rara.


"Ish, nggak gentle banget jadi nenek," gerutu Rara


Mau tidak mau Rara memanggil teman-teman gaibnya yang terdiri dari manusia, hewan, maupun perpaduan keduanya.


Pertarungan berlangsung lama dan dimenangkan oleh Rara. Daerah yang penuh cakaran dari Rara dan Karin akhirnya menjadi kepulan asap, begitu juga Sinta, Amel dan Toni yang semakin lama semakin pudar di mata Rara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar