Selama dua hari berturut-turut, aku ikut Abi menjaga konter di daerah Bulungan. Kebetulan, Abi punya konter sendiri. Aku senang melihat konter Abi yang beberapa hari ini ramai.
“Silakan duduk dulu, Mba,” ucap Abi, masih melayani pelanggan yang datang lebih awal. Akan tetapi kakak itu sepertinya tidak mendengar. Jarinya terus terpaut dan tidak tenang. Apakah kakak itu ... gugup?
“Kak?” sapaku pelan, “Kakak mau permen? Kayaknya kakak gugup. Atau ... aku ambilkan air mineral?”
“Eh, nggak perlu, makasih.” Kakak yang belum kuketahui namanya itu tersenyum. Aku heran mengapa banyak orang yang saat tersenyum matanya menjadi sipit? Apakah putih-putih matanya terseret ke pipi? Soalnya pipi kakak itu menjadi lebih gendut sama seperti orang-orang yang sebelumnya kulihat.
“Ada yang bisa saya bantu, Mba?” tanya Abi
“Sebelumnya kenalin namaku Ana, Om. Om pernah liat orang ini?” tanyanya sambil memperlihatkan layar hp yang menampilkan foto wanita cukup gendut dengan gamis biru dongker
“Owh itu, Bi, yang kemaren nuker voucer. Yang sama Aira,” seruku
“Nah iya, itu, aku keponakannya dia. Sebelumnya aku minta maaf, tapi kayaknya ada sedikit kesalahpahaman. Soalnya aku tadi pagi nemu ini.” Kak Ana memperlihatkan isi dalam amplop putih. “Tadi pagi aku nemu dua voucer. Ini yang kemaren buat tukeran dan ini voucer yang belum digosok. Tulisan tangannya sama, jadi kayaknya yang voucer nggak bisa digunain itu voucer yang aku beli dulu. Ini aku kembaliin satu yang belum digosok.”
“Barakallah fiikum.” Tampak kekaguman di wajah Abi. Sepersekian detik, Abi mengambilkan beberapa permen, “Berikan ke kakak jujur, Nak.”
Menuruti perintah, aku menyodorkan beberapa permen yang sengaja dipersiapkan konter untuk memberi kembalian di bawah lima ratus rupiah.
“Permennya buat kamu aja ya, Cantik. Kan kakak cuman ngelakuin apa yang seharusnya dilakuin. Karena kakak cuman bayar satu voucer, jadi dapatnya juga satu. Lagian kata mamanya kakak, melakukan kebaikan ngga perlu berharap imbalan,” ujarnya kemudian tersenyum simpul. Namun sepersekian detik-
“Ya Allah aku lupa! Mama belum dijemput. Om, Cantik, aku pamit dulu ya. Makasih permennya. Assalamu’alaikum,” ucapnya sambil berlalu
“Wa'alaikumussalam.”
“Ayo, Sayang, kita juga harus jemput Ummi,” ajak Abi
Sepanjang perjalanan, aku terus kagum dengan aksi kak Ana tadi. Jarang-jarang ada orang seperti dirinya di dunia ini.
“Assalamu’alaikum.”
Sapaan Ummi yang tiba-tiba, berhasil membuatku terlonjak. Sejak kapan aku dan Abi sampai di tempat pengajiannya Ummi?
“Wa'alaikumussalam. Kaget aku tuh, Mi.”
“Anak Ummi kenapa?”
“Aku kagum sama kak Ana. Ternyata voucer yang aku ceritain ke Ummi kemaren itu bukannya nggak berfungsi, tapi emang udah dipake sebelumnya. Kak Ana udah cerita dan ngembaliin voucer yang dibeli pertama,” jelasku
“Kan, Ummi bilang juga apa. Kita khusnudzon aja. Allah akan sesuai prasangka hamba-Nya dan Allah akan bersama orang-orang yang memohon pada-Nya (HR. Muslim),” jelas Ummi. “O iya, kenalin ini temen Ummi namanya Fatma. Fat, ini anakku yang bungsu namanya-“
Deruman motor menengahi pembicaraan. “Mama, maaf aku terlambat jemputnya. Aku tadi ada urusan dikit,” ucap pengendara motor itu. Aku seperti mengenali suaranya. Terdengar seperti-
“Kak Ana,” panggilku agak ragu
“Eh, Cantik. Kita ketemu lagi ternyata.”
“Iya,” ucapku kemudian terkekeh. “Ih keren kakak tadi mah naik motornya. Mana jujur dan asik. Coba kalo kak Ali seasik kakak.”
“Kamu nggak perlu khawatir. Kak Ana bakal jadi kakak kamu kok,” celetuk Fatma
“Caranya, Tante?”
“Menikahkan kakakmu dengan kak Ana.” Ucapan Fatma kemudian dihadiahi tatapan mencekam dari anaknya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar