"Mba Vina mau beli apa?" tanya Mawar
"Jangan panggil mba lah. Kan mba yang lebih tua dari aku."
Mawar hanya pengentasan sambil meminta maaf. Vina memesan jus rasa coklat dan segera dibuatkan oleh Mawar. Seminggu yang lalu, Mawar membuka warung kecil-kecilan. Cukuplah untuk memenuhi hasrat ngemilnya.
"Ini jusnya dan ini kembaliannya Mba. Makasih."
Mawar yang kembali khilaf kembali nyengir. Kebiasaannya susah dikendalikan.
"Kenapa sih semua orang dipanggil mas, mba, padahal mereka lebih muda dari mba."
"Aku udah kebiasaan. Hatiku udah terlatih buat ngucapin hal itu. Kamu tau Bintang?" tanya Mawar kemudian
"Iya?"
"Dari segi umur, aku emang lebih tua dari Bintang, tapi karena keluargaku masih megang adat demi kesopanan, aku harus manggil dia dengan sebutan mas. Dalam silsilah keluarga, aku lebih tua dari mba Tiara karena nenekku itu kakak dari kakeknya mba Tiara. Harusnya dia manggil aku dengan sebutan mba, tapi berhubung dia lebih tua, aku diperintahin supaya manggil dia dengan sebutan mba. Daripada ribut, aku lebih milih ngalah. Dari kecil aku dididik untuk jadi gadis penurut. Di keluargaku, aku cuman jadi eksekutor bukan legislator."
Ah, jadi itu sebabnya dia jadi people pleaser, batin Vina
"Berubah dong. Emang nggak bosen jadi eksekutor mulu."
"Ya ... mungkin satu atau dua bulan yang akan datang. Lagi ngumpulin nyali dulu buat jadi pemberontak."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar