Tiga puluh menit sebelum adzan dzuhur, Tanto pergi ke pelataran sungai untuk memancing, tapi, sampai pegal kakinya berjongkok tak ada satu pun ikan yang berhasil ia tangkap. Ketika akan beranjak, bisa ia lihat di seberang sana seorang laki-laki mendapat ikan yang lumayan besar. Mencari peruntungan, Tanto menyeberang.
Tanto tak kunjung berada di seberang karena tiba-tiba saja ia merasa kakinya ditarik. Saat menoleh ke belakang, ada pusaran air cukup besar entah darimana dan kapan terbentuknya. Pusaran itulah yang menarik Tanto ke dalam. Ia megap-megap ketika tubuhnya terendam air menyisakan tangannya untuk berpegang pada apapun yang bisa menyelamatkannya. Kakinya yang terasa ditarik itu sebisa mungkin ia tendang-tendangkan. Terus dan terus ia lakukan diiringi doa dalam hati.
Sepuluh menit setelah adzan dzuhur, barulah ia terbebas dan bisa berjalan menuju daratan. Anehnya, kedua kakinya lecet, seperti membentur bebatuan padahal rasanya ia tidak membentur batu sekecil apapun tadi. Ia tak menemukan bebatuan, hanya lumpur yang ada dimana-mana. Kemudian, ia pulang dan menceritakan kejadian ini pada keluarganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar