Aku mempunyai seorang adik. Namanya Ara. Ia baru berumur 4 tahun. Suatu ketika ...
"Ara, ayo makan. Nanti kalau tidak makan kamu bisa sakit."
"Ara nggak mau makan, Bunda. Ara masih ingin bermain."
Aku berusaha mengalihkan perhatiannya. Muncullah ide yang brilian.
"Ara, Ara. Kamu tahu tidak angka satu itu bagaimana?" tanyaku pada Ara
"Tidak. Memang angka satu itu bagaimana, Ka?"
"Angka satu itu kurus banget seperti lidi. Kau tahu mengapa?" tanyaku lagi
"Kenapa Ka?"
"Jadi seperti ini ceritanya. Di sebuah desa, ada anak bernama Atu. Anak itu suka ... sekali bermain. Sampai ia lupa waktu. Pada suatu pagi, ia bermain balok kayu. Ayahnya telah berangkat ke sawah tadi dan kini, ibunya akan pergi ke pasar untuk membeli sayuran.
"Atu, kamu mau ikut ke pasar?" tanya ibu Aty
"Tidak, Bu. Aku ingin bermain balok kayu saja."
"Di rumah tidak ada makanan, apa kau tidak akan kelaparan? Ikut ibu saja nanti akan ibu belikan kue cubit."
"Tidak, Ibu. Aku hanya ingin bermain balok."
"Baiklah. Mungkin ibu akan sedikit terlambat karena mau beli banyak kebutuhan. Kamu jaga rumah ya," seru ibu Atu sebelum pergi
Atu hanya mengangguk. Ibunya pun ke pasar seperti biasa.
Sampai siang hari, ibu Atu belum juga kembali. Begitu pun ayahnya. Perutnya sudah mulai keroncongan minta diisi. Di rumah hanya beberapa krupuk yang ia temui. Atu pun memakan krupuk itu berharap ia bisa kenyang. Namun ia masih saja merasa lapar.
Atu menyusul ke sawah tempat ayahnya bekerja. Ia tidak menemukan siapa pun disana. Ia mengelilingi pasar, bertanya pada orang-orang yang yang ia kenal. Akan tetapi, tak satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan orang tua Atu.
Setitik banyu bening meluruh dari matanya. Ia berteriak memanggil ayah dan ibunya. Namun, orang-orang disana enggan untuk sekedar bertanya mengapa.
Atu memutuskan untuk kembali ke rumah. Semakin ia menangis, tubuhnya semakin kurus. Hingga tepat di depan rumah, ia berubah menjadi sebuah lidi. Tamat."
"Jadi, Ara mau jadi seperti Atu?"
"Tidak mau!" ucapnya setengah berteriak
"Jadi, Ara harus melakukan apa sekarang?" tanyaku memancing
"Makan yang banyak."
"Yang sedang-sedang saja. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik."
"Oke kakak comel."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar